Pada kesempatan menghadiri Jumatan di mushalla yang disediakan oleh Washington University, sang khatib menyampaikan betapa kehidupan Muslim di Amerika serba sulit. Seorang Muslim dan keluarganya senantiasa merasa diawasi keberadaan dan tindak tanduknya. Kebetulan sang khatib adalah orang Iran -demikian yang saya ketahui setelah Jumatan selesai. Khatib menyampaikan bahwa dicurigai membuat seseorang menderita luar biasa. Siksaan. Ada perasaan waswas dan tidak tenang secara terus-menerus. Ada perasaan bahwa sesuatu akan terjadi pada anda, kapan pun. Kalau sudah nasib, anda bisa diciduk, kapan saja, dengan berbagai alasan yang tidak dapat kita duga.
Saya sendiri juga mengalami hal yang kurang lebih sama. Sebagai orang Indonesia dan Muslim, saya diharuskan menjalani sejumlah prosedur yang tidak dialami warga negara lain. Ketika transit di bandara Detroit untuk mendapatkan kapal terbang sambungan ke St Louis, saya harus diperiksa dalam jalur dan ruang khusus. Walaupun tidak diwawancarai, tapi jari-jari saya harus dipindai, saya difoto dan didata kembali. Paspor saya diberi lembar tambahan dengan sejumlah kode yang pasti punya indikasi khusus. Saya diingatkan untuk menyimpan slip khusus di paspor dan sekali lagi harus dikembalikan kalau keluar dari Amerika. Prosedur berjalan kurang lebih setengah jam dilayani petugas yang mengobrol dan menerima telpon. Ketika saya menjawab pertanyaannya agak panjang, petugas memotong dan mengatakan agar saya menjawab apa yang dia tanya saja. Dingin tatapannya. Di ruang tersebut, saya dijaring dan diproses bersama orang Timur Tengah lainnya -para Wahhiid, Wahab, Harun, dll. Laksmono ternyata juga kena, sayangnya.
Pulang ke Jakarta, saya menggunakan Northwestern Airline. Karena alasan kewarganegaraan (mungkin), maka saya diperiksa ekstra ketat. Boarding pass saya diberi tanda khusus. Maaf, tandanya SSSS. Seperti tanda Nazi. Mungkin artinya, “Awas, ini orang super bahaya.” Tas dan badan diperiksa khusus. Sopan memang -tapi, curiganya itu lho.
Dengan KLM, sambungan ke Kuala Lumpur, boarding pass saya tidak diberi nomor hingga saat-saat terakhir: Nomornya 41-J. Tahu di mana? Di kursi paling belakang, dekat toilet. Jaaauuuh banget dari pintu masuk dan kokpit. Setelah duduk lima menit, penumpang sebelah saya datang. Botak dan kekar, celana pendek. Kayanya tentara. Ternyata dua orang di depan kursi saya juga kekar dan botak-botak. Kaya tentara juga. Depannya, baris tiga, juga gitu. Jadi di situlah saya seperti diapit dan diawasi. Ga tau ya kalau saya dosen UI, gumam saya dalam hati. Jadi, bagaimana ya kesimpulannya? Apa takut kalau saya membajak dan membahayakan penumpang? Saya kesal aja. Sedih. Rasanya seperti…. maaf… saya ga bisa ngomong. Tapi, ini perasaan saya saja. Mungkin saya terlalu sensitif.

