I. Mendekati hati mahasiswa
Memberikan kata sambutan kepada mahasiswa baru FISIP bukanlah perkara yang mudah buat saya. Berdiri dan memberikan ceramah kecil di depan mahasiswa baru, pada acara PSAU misalnya, bukannya tidak sulit. Untuk memberikan apa yang penting, yang perlu dan yang sepintas perlu diketahui mahasiswa sebenarnya perlu dipersiapkan juga. Apa yang mutlak diketahui (have to know), apa yang penting (need to know) dan apa yang sepintas perlu (nice to know) perlu dipikir takarannya, agar proporsi yang diberikan bisa pas -bukannya elemen yang hanya sepintas diperlukan mahasiswa justru memperoleh proporsi yang terbanyak. Misalnya saja, berbicara terlalu banyak tentang ‘jalanan bisa banjir dan macet kalau musim hujan di Margonda’ atau ‘gado-gado yang enak ada lho di kantin PAU’ atau ‘tempat hang out yang enak di Depok ada di …. (saya tidak tahu)’.
Sebagai pemanasan, biasanya saya memancing perhatian mahasiswa baru dengan pertanyaan-pertanyaan “Bagaimana, mahasiswa, apakah semua mau jadi sarjana ?”, “Apakah semua mau wisuda (pakai jubah batman)?”, dan “Kapan mau wisudanya ?”. Biasanya mahasiswa akan menjawab serentak, “Iyaaa, mau jadi sarjana” dan “Iyaaa, mau wisuda pakai jubah” dan, mengenai kapan wisudanya, mahasiswa umumnya masih bingung menjawab.
Dari pembukaan itu saya biasanya lalu menjelaskan bahwa menjadi sarjana memerlukan kecintaan terhadap dan pendalaman ilmu, juga disiplin belajar. Tidak lupa saya selalu menjelaskan kalender akademik dan peraturan akademik. Saya katakan bahwa WD I tugasnya (terkadang) seumpama dokter di unit gawat darurat: yakni, menerima pasien yang sudah sekarat. Perumpamaan ini dikaitkan dengan banyaknya pasien mahasiswa yang nyaris DO. Ada yang selamat dan (maaf) ada yang tidak bisa diselamatkan. Jadi, saya tanya ke mahasiswa, “Apakah ada mau masuk unit gawat darurat?” Umumnya mahasiswa jawab, “Tidaaaak!” Nah, kalau gitu ikuti peraturan akademik dengan baik dan belajarlah sungguh-sungguh, saya selalu tekankan.
Dalam acara sambutan pimpinan fakultas bagi mahasiswa baru 2007 saya mencoba formula ceramah yang baru. Oleh karena tahun ini saya tampil sebagai Pejabat Dekan, maka materinya harus beda dengan seorang Wakil Dekan Bidang Akademik (biasanya materinya tentang kalender dan peraturan akademik). Sebagai pimpinan fakultas, saya harus tampil energetik dan visioner. Harus tampil necis dan meyakinkan sebagai sosok yang memberikan arah perkembangan fakultas ke masa yang akan datang. Untuk kepentingan visi misi, rasanya saya bisa memberikan pandangan yang meyakinkan (walaupun belum ada evaluasi publik ya!). Tahun ini saya menggulirkan motto “Jadilah kita mahasiswa yang bangga akan FISIP dan jadilah lulusan yang membanggakan FISIP”. Sepintas saya katakan bahwa mahasiswa akan bangga dengan fakultasnya kalau fakultasnya berkualitas dan menjadi tanggung jawab saya untuk memastikan lembaga ini memberikan yang terbaik buat Anda para mahasiswa. Berulang saya sampaikan bahwa ini Universitas Indonesia, universitasnya bangsa Indonesia. Kualitasnya harus yang terbaik dan yang mampu menjembatani kepentingan nasional dalam konteks global. Karena kalau mindsetnya lokal, lebih baik kita ubah nama universitas kita jadi Universitas Margonda saja! Selanjutnya, menjadi alumnus yang membanggakan sangat tergantung pada kemampuan mahasiswa menggunakan waktunya di kampus.
II. Membagi waktu
Secara lebih luas, tema yang saya tampilkan tahun ini adalah “keseimbangan waktu dan tujuan: menelusuri dunia mahasiswa dengan selamat dan lulus tepat waktu”. Sekali lagi, tema besarnya “keseimbangan waktu dan tujuan: menelusuri dunia mahasiswa dengan selamat dan lulus tepat waktu”. Ada beberapa elemen penting dalam rumusan tema ini. Ada kepentingan untuk menyelesaikan studi tepat waktu, artinya tidak kelewatan jumlah semesternya. Karena itu artinya DropOut ya, kalau lewat masa studi. Kemudian ada unsur kata ‘selamat’. Selamat dalam menelusuri dunia kemahasiswaan artinya mampu menjalani seluruh proses belajar tanpa terjadi musibah, baik kecelakaan maupun terbawa aliran sesat. Hati-hati lho. Intinya, jangan sampai konsentrasi menyelesaikan studi kita hilang dan akhirnya menjadi masalah. Soal hidup tanpa terpengaruh narkoba dan pergaulan bebas, saya tidak usah terlalu banyak bicara lagi. Semua juga bicara yang sama. Soal norma sosial dan agama, kita sudah tahu masing-masing. Sekarang tinggal bagaimana kita menghayatinya, bukan?
Apa tujuan menjadi seorang mahasiswa? Saya kira, sampai saat ini, belum ada definisinya ya. Apa tujuan menjadi seorang mahsiswa, khususnya mahasiswa UI? Karena saya pernah menjadi mahasiswa, paling tidak saya ada ide mengenai ini. Tujuan menjadi mahasiswa adalah membekali diri dengan ilmu pengetahuan yang menjadi sandaran bagi pengabdian bagi keluarga dan masyarakat. Rumusan ini bisa diperpanjang dan diberi nuansa yang lebih transedental. Tapi saya menekankan pada diri kita sendiri dulu, sebagai individu dalam konteks pengabdian bagi keluarga dan masyarakat. Omong kosong mau mengabdi kepada keluarga dan masyarakat bila kita tidak bisa menolong diri sendiri dulu. Kita semua, sebagai individu, harus kuat, mandiri, berhasil dan dapat menjadi teladan bagi lingkungan kita. Sumbangsih kita harus nyata, bermakna dan memberikan semangat bagi semua yang kita temui dalam perjalanan karir, kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat.
Ya tentu, kita semua ingin berhasil dan menjadi teladan bagi masyarakat. Lalu, bagaimana caranya? Ini kembali pada esensi yang disebut di awal tulisan. Yakni, soal memberikan proporsi waktu bagi sejumlah unsur kegiatan pokok. Ketika berbicara dengan mahasiswa pada acara PSAU, saya memberikan kuis yang mudah. Saya tanyakan, jika Anda (mahasiswa) harus memberikan proporsi waktu bagi tiga hal -Belajar, Kerja dan Pacaran/Mencari Jodoh- maka kira-kira pembagiannya bagaimana? Dari jawaban mahasiswa, ada yang memberi 50% untuk belajar, 30% kerja dan 20% cinta. Ada yang ekstrim juga. Misalnya, 90 persen belajar, dan ada yang 0% untuk cinta. Mahasiswa sempat juga tepuk tangan dan sebagian sedikit ragu dan teriak, “Weeeeee”. Dari kuis ini, saya hanya ingin memberitahukan kepada mahasiswa bahwa kehidupan kemahasiswaan adalah jalan menuju kedewasaan. Kedewasaan adalah kemampuan diri untuk menjalankan tugas-tugas kemasyarakatan dengan tanggung jawab dan profesionalisme sesuai dengan bakat dan minat individual. Dulu waktu jadi anak SMA, mungkin proporsi waktu untuk ‘Kerja’ hanya 0%. Tapi, alangkah baik kalau mahasiswa juga mulai berfikir bagaimana mencari uang. Mahasiswa juga perlu belajar serius agar gelar (ijazah) yang diperolehnya nanti bukan sekedar pajangan dan foto wisuda doang. Begitu juga soal pacaran. Bukan saya menyuruh atau mendorong pacaran. Tapi kita juga harus mulai berfikir (atau ancang-ancang) tentang wujud keluarga dan siapa pasangan hidup kita kelak. Menemukan jodoh di masa mahasiswa menurut saya paling tepat. Selain kematangan (dan dorongan .. he he), pilihannya juga lebih luas dan berbobot. Bisa cari di Fakultas Ekonomi, Teknik, FIB dll.
Kembali ke soal keseimbangan antara belajar, kerja dan mencari pasangan hidup, saya kira ini penting walaupun penuh simplifikasi. Tidak seorang pun yang dapat memastikan perjalananan hidup kita. Namun, kiranya kualitas dari proses interaksi kita dengan ilmu kita sendiri (maksudnya belajar sungguh-sungguh), interaksi dengan sumber mata pencaharian kita (lewat magang, pelatihan, orientasi ekspo-karir dll) penting kita jelajahi betul. Berinteraksi dengan masyarakat profesi dari masing-masing bidang dalam hal ini sangatlah penting. Tapi, jangan yang Indonesia saja; kalau bisa, komunitas dan mahasiswa internasional juga. Ingat, ini jaman global. Pesaing kita semakin banyak dan para profesional dari kebangsaan lain akan (bahkan sudah) masuk ke Indonesia dan mengambil alih peluang pekerjaan terbaik di bursa kesempatan kerja kita. Kedudukan manajerial saat ini sudah diisi bangsa-bangsa lain, dari India, Malaysia, Singapura, bahkan Bangladesh. Kawan, kita tidak boleh jadi kuli di negeri sendiri.
III. Kriteria dan Jalan Menuju Mahasiswa Ideal
Kita akan bicara tentang mahasiswa ideal. Ideal artinya kurang lebih baik dalam ukuran masyarakat. Ideal bisa berarti pantas dicontoh. Kalau skalanya tinggi, maka ia dibilang berprestasi karena mengandung pencapaian yang luar biasa, lebih dari rata-rata. Dapat juga disebut teladan jika mempunyai nilai inspiratif bagi warga muda lainnya. Kembali lagi, tidak mudah juga merumuskan indikator mahasiswa ideal untuk FISIP. Mengikuti kriteria juri lomba mahasiswa teladan universitas dan lomba mahasiswa teladan nasional, maka elemen yang dilihat adalah integritas, karya ilmiah dan kemampuan berkomunikasi. Kita semua punya ketiga unsur yang baru disebut. Sedikit banyak, kita punya kekuatan diri, sikap dasar, komitmen nyata dan persepsi tanggung jawab yang membangun integritas diri. Demikian pula kita pasti memiliki sejumlah karya ilmiah (makalah dll) yang dapat kita presentasikan di depan khalayak luas. Berkomunikasi? Mestinya kita semua mampu berkomunikasi dengan baik dalam Bahasa Indonesia dan mungkin dalam bahasa asing lainnya. Jadi, apakah kita dapat dikatakan mahasiswa ideal?
Saya kira, kita semua ingin menjadi mahasiswa ideal, mahasiswa berprestasi dan mahasiswa teladan. Kita mempunyai jalan hidup masing-masing dan tentunya berharap dapat memiliki sejumlah kelebihan karakter yang dapat dibanggakan oleh orang-orang di sekitar kita. Namun, bagaimanapun, seorang mahasiswa sangat ditentukan oleh intelektualitasnya.
Apa itu intelektualitasnya? Ini dia, pertanyaan berbuah pertanyaan. Jawaban berbuah pertanyaan lagi. Intelektualitas adalah kapasitas berfikir untuk memahami masalah dengan baik dan kemampuan mencari solusi dengan sandaran spektrum ilmu pengetahuan yang luas. Kita tidak usah berdebat mengenai definisi. Bagi mahasiswa, saya hanya ingin titip pesan. Bacalah buku dengan konsentrasi penuh minimal dua jam sehari. Subjeknya mohon beragam, terutama tentunya bacaan yang relevan dengan bidang ilmunya. Baca buku Bahasa Indoesia dan juga bahasa asing. Tetapkan target satu buku seminggu, kalau bisa. Lalu, usahakan kerja di internet sekitar 3 jam seminggu, minimal. Kunjungi website yang baik dan balaslah email dengan disiplin. Jaga hubungan interpersonal dengan kenalan, lewat email.
Waktu khusus untuk internet sangat saya tekankan. Dunia ini saat ini mengalami revolusi informatika. Lautan informasi ada di depan kita. Terjun dan raihlah informasi. Informasi penting, tetapi jaringan kerja juga penting. Internet menjadi sumber pemasaran gagasan yang efektif dan menjadi sumber dari kerjasama solusi antara berbagai pihak.


menarik sekali tulisan mengenai mahasiswa dan lulusan fisip yang membanggakan. namun ada beberapa catatan penting yang bisa saya sampaikan bahwa kehidupan sebagai seorang mahasiswa tidaklah terisolir oleh dunia luar. sebagai mahasiswa hendaknya care dengan keberadaan orang lain. saya sangat prihatin dengan sikap mahasiswa yang cuek dengan lingkungan sekitarnya. memang banyak kegiatan yang dilakukan, namun seringkali kegiatan itu hanya sebagai ajang melatih diri sendiri atau mengangkat nama sebuag organisasi tanpa melihat manfaatnya bagi orang lain. mahasiswa dan lulusan fisip hendaknya bermanfaat bagi orang lain karena itulah hakikat kehidupan…kita ada untuk orang lain.
poin kedua adalah apakah setelah lulus, kita hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan perut tanpa peduli dengan idialisme yang dulu pernah diagung-agungkan. ada banyak contoh lulusan yang dulunya pada sat menjadi mahasiswa koar-koar meneriakkan idialisme tertentu namun setelah lulus dan mencicipi nikmatnya duit…..mereka justru mencemplungkan diri di dunia yang dulunya mereka tentang. idialisme digantungkan dan diganti dengan materialisme….
semua itu memang pilihan, namun tolonglah kita memilih sesuatu yang bermanfaat bagi perubahan ke arah positif.
mannainstitute.wordpress.com
- totally we can -
setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuu……………
saya mahasiswi FISIP-HI di salah satu perguruan tinggi swasta di daerah karawaci-tangerang
saya mau tanya pak
saya mau lanjut S2 di UI bisa ga pak??
peluangnya bisa beda ga y pak?
saya awalnya daftar UI FISIP
tapi bukan keberuntungan saya atau memang nasib saya tidak di terima di UI
bisa kasih tau ga pak sarannya?