Mulus… mulus …. Muluuusss. Wah mulus banget. Siapa yang tidak terpesona dengan mulusnya jalan tol di Kuala Lumpur. Perjalanan dari KLIA menuju daerah Bangi, melewati sejumlah putaran tol, meliuk dengan derajat siku yang nyaman. Melaju dalam hentakan peredam kejut mobil Proton terbaru. Wusshh melaju sambil mata dihibur rantaian pohon bunga di sepanjang jalan. Tampak Cyberjaya dari kejauhan dan juga Universitas Pertanian Malaysia. Gedung modern Universitas LimKokWing dengan slogannya for the creative talents dan Universitas Multimedia yang megah juga mencuri pandangan kita.
Di tengah keterpurukan kita, telusuran kita di lebuh raya (jalan tol) di ibukota Malaysia ini memang membuat hati kita berdebar karena decak kagum. Jakun pun kerap berdegub karena sering menelan ludah. Bagaimana bisa sebuah lompatan demikian jauh, melesat kencang, buah kerja bangsa Melayu yang tiga dekade lalu sering kita pandang sebelah mata. “Kuala Lumpur is a beautiful city,” komentar kenalan saya dari Skotland, sebut saja namanya John. Penilaian itu diberikan dengan maksud membandingkan Jakarta yang juga sangat dikenalnya luar dalam.
Dia juga cerita tentang kebiasaan petugas imigrasi bandara kita yang sering menerima (atau meminta) selipan uang seratus ribu dari warga negara Indonesia yang baru pulang dari luar negeri -dari bangsa Indonesia keturunan Cina dan India, khususnya. Jelas ini berbeda dengan banda KLIA yang begitu modern dan indah arsitekturnya. Orangnya sama Melayunya, tetapi sistem kerjanya itu lho yang nampak membungkus perilaku organisasi menjadi profesional, impersonal tetapi efisien. Turis yang datang berbondong-bondong ke negeri itu saya lihat riang dan seakan diberi energi ketika berkeliaran di ruang antrean imigrasi Malaysia dan di ruang pengambilan bagasi. “Indonesians are nice friendly people, but they are just not welcoming; the bribery in the airport gives the wrong message about Indonesia,” komentar John berusaha sopan.
Lorong imigrasi Bandara Soekarno Hatta memang lain. Suram, tatapan mata petugas kurang bersahabat dan tidak ramah. Loket imigrasi terbuka lebar tanpa kaca pembatas. Entah ini signal transparasi pelayanan atau sebaliknya sengaja, agar sisipan uang mudah disampaikan? Lorong panjang antrean diiringi suara tangisan anak kecil yang lelah kelewat lama mengantri dan detuk cap petugas imigrasi duk… duk… duk duk. Tidak ada musik penenang di situ. Petugas ada saja yang berdiri; entah mau apa, sedangkan anak kecil yang menangis dan ibu yang menggendong anak tidak diberi layanan lebih dulu. Formal dan mencekam. Demikian suasananya.
Orang yang datang ke Indonesia diliputi dengan kecemasan, bahasa pak John temen saya, “feeling apprehensive“. Artinya, ada rasa tidak nyaman dan takut akan ada sesuatu yang buruk akan terjadi pada kita. Jelas apprehensive, tamu kita banyak yang hilang tidak ketemu penjemputnya karena waiting corridor-nya dibelah dua, ke kiri dan ke kanan. Kenapa dibuat begitu? Dugaan saya karena konter taksi Bluebird mengambil lokasi di tengah frontal dengan pintu exit. Turis sering hilang, karena dia belok ke kanan sedangkan penjemputnya berdiri di sisi kiri dari passenger exit gate. Narasi ini hanya contoh kecil. Tentunya banyak persoalan besar yang perlu kita perhatikan bersama.
Kita tidak boleh menggerutu terus dan jadi pesimis. Perasaan gundah beginilah yang membuat saya kerap menolak perjalanan ke luar negeri. Suka sakit hati karena terpaksa membanding-bandingkan. Masalahnya, kalau kelamaan di dalam negeri, kita jadi malas dalam comfort zone kita. Kelamaan di dalam negeri tidak akan memunculkan pertanyaan kritis. Mengapa negara lain sukses, negara kita terseok? Kenapa kita selalu mengambil langkah dan kebijakan yang salah? Mengapa Korea bisa, kita tidak? Kenapa Malaysia bisa, kita tidak? Apakah ini salah Belanda yang menjajah kita 3,5 abad sehingga 60 tahun merdeka pun tidak cukup memberi waktu untuk mensejahterakan masyarakatnya? Apakah karena Indonesia negara kepulauan yang memiliki 17 ribu pulau dengan lebih dari 350 bahasa daerah sehingga sulit mengelolanya? Apakah karena penduduk Indonesia 230 juta sehingga sulit untuk membangun kesejahteraannya?
Rasanya kita telah berusaha melakukan pembangunan selama 4 dekade terakhir. Berkeringat tetapi tak ada hasilnya. Yang menjadi renungan saat ini adalah, ke mana perginya energi dan kekuatan kita sebagai bangsa? Kenapa bangsa ini hanya bisa dan terus bergayut pada ranting yang rapuh? Mana dahan yang kokoh itu, ke mana larinya? Kenapa pucuk-pucuk keberhasilan itu tidak bersemi? Bangsa ini tidak berbuah. Menanam tapi entah buahnya ke mana. Mengapa… mengapaaaaaa? Mimpi buruk itu ternyata adalah sebuah kenyataan. Kenyataan yang akan menemani anak cucu kita nanti. Menyeramkan.
Apa yang harus kita buat? Banyak hal dapat kita lakukan. Banyak yang dapat kita lakukan segera. Sebagai individu mahasiswa, marilah kita menjadi bagian dari suatu kerangka kerja nasional untuk mempersiapkan diri menajdi lapisan pemimpin yang profesional dan memiliki komitmen moral kebangsaan. Persiapkan diri sebaik mungkin untuk menjadi pemimpin kelak yang mampu menghimpun kekuatan bangsa dari berbagai macam unsur pengetahuan.
Kepada para staf pengajar FISIP, marilah kita menjadi bagian dari kerangka kerja nasional untuk membangun kekuatan kelembagaan, pendorong inovasi dan menjadi penunjang kerangka industri yang maju dan kompetitif dalam dunia global. Kepada para dosen muda, khususnya, kalianlah penerus semangat dan karya bangsa. Siapkan dirimu menjadi unsur pemersatu dalam ilmu dan dalam kerja bangsa untuk mengejar ketertinggalan bangsa ini.
Kepada para karyawan, engkau adalah fondamen lembaga di mana kita bersandar, maka temukan kebahagiaanmu dalam pengabdian. Untuk kita semua, temukan kebahagiaan dalam kemajuan dan cinta sesama.
Jangan ragu; inilah masa depan kita, masa depan yang harus kita perjuangkan bersama. Tidak ada alasan untuk duduk berpangku tangan dan merenungi nasib. Panggilanmu ada saat ini, kita belum telat. Kita bisa mencapai kemajuan. Kita bisa dan kita belum telat!

