Marilah kita mulai dengan berdoa agar kita semua dalam keadaan sehat dan senantiasa kuat bersemangat untuk bekerja. Dalam kesempatan ini saya ingin mengajak semua warga FISIP UI untuk melangkah lebih maju ke depan. Marilah kita meningkatkan kualitas pendidikan kita. Marilah meningkatkan kontribusi kita pada pemecahan masalah bangsa. Marilah kita bekerja sama untuk mewujudkan kemajuan. Inilah tema besar yang ingin saya sampaikan kepada kita semua dalam sebuah tulisan singkat yang saya beri judul “Konsolidasi Kelembagaan untuk Melangkah Maju”. Mengapa konsolidasi kelembagaan diangkat sebagai subyek utama dan ke mana langkah maju ini ingin diarahkan akan saya jelaskan dalam uraian berikut ini.
Saya akan mulai dengan suatu renungan yang datang dari perjalanan singkat saya ke Amerika Serikat beberapa waktu yang lalu. Saya sempat ke tiga universitas di sana -dua universitas yang berskala internasional, yakni Washington University di kota St Louis, Missouri, dan University of California-Berkeley di San Fransisco. Selain itu, sebuah universitas ‘kecil’ -karena berskala kota- juga sempat saya kunjungi, yakni Hunter School of Social Work di Kota New York. Tiga kota dan tiga universitas ini cukup mewakili tiga wilayah di AS, yakni ujung pantai Timur (New York), dataran tengah (Missouri) dan pantai Barat (California).Dari kunjungan ketiga universitas ini, saya menangkap beberapa hal penting yang pantas dicatat sebagai renungan akademik; lebih bagus lagi sebagai pekerjaan rumah kita bersama.
Yang pertama adalah kesungguhan ketiga universitas ini dalam melakukan riset-risetnya. Riset, ya riset, riset dan riset.University California-Berkeley, anda tahu kan reputasinya.Yang pertamakali ditanya oleh kolega profesor di sana adalah riset apa yang sedang anda kerjakan di Indonesia? Kenapa soal itu yang selalu ditanyakan ke kita? Mereka tampaknya bukan basa-basi dalam mengajukan pertanyaan tersebut. Untungnya saya bisa sedikit tenang menjawabnya. Paling tidak setahun terakhir saya aktif dalam sebuah penelitian tentang kebijakan pemuda di Korea Selatan dengan dana dari TJ-Park POSCO. Yah, paling tidak tidak terlalu ketinggalan dan terselamatkanlah ‘tongkrongan’ kita di depan sang profesor Berkeley tersebut. Seorang dosen dan profesor di semua universitas tersebut memang aktif menangani paling tidak satu penelitian penting setiap tahunnya dan kumpulan penelitian tersebut tersebutlah yang akan diperhitungkan dalam kenaikan pangkat dan kelangsungan kontrak kerja mereka. Kan kita pernah dengar “Publish or Perish”. Memang begitulah hukum rimba yang berlaku di sana. Kalau tidak menulis (di jurnal dan buku) maka binasalah kamu (kontraknya diputus, terpaksa balik kampung!). Lebih penting lagi adalah sejauh mana universitas tersebut dianggap sebagai universitas yang baik dan akan banyak menerima mahasiswa di kemudian hari. Jumlah dana yang dimenangkan oleh seorang dosen adalah ukuran sangat penting yang diterapkan untuk menilai seseorang, karena sangat terkait dengan reputasi dan kelancaran cash flow universitas, tentunya.
Saya temui bahwa, di Amerika, semua lembaga pemerintahan memberikan tanggung jawab penelitian kepada perguruan tingginya. Bukan kepada unit litbang departemen. Saya akan cek lebih dalam mengenai hal ini, tetapi demikian yang saya tangkap. Perguruan tinggi diberi mandat dan kepercayaan yang tinggi untuk melakukan penelitian untuk kepentingan pengembangan kebijakan. Para profesor diberi dana yang cukup besar untuk melakukan pemantauan kebijakan dengan dana yang tidak tanggung-tanggung. Ada yang 5 juta dollar, ada yang 12 juta dollar -berapa itu kalau dirupiahkan ya? Penelitian, sekali lagi, tidak dilakukan di litbang departemen. Dari dana yang besar inilah para profesor mempekerjakan para mahasiswa doktornya, sekaligus membuat penelitian disertasi.
Catatan yang kedua adalah demikian giatnya mereka memberikan pengabdian masyarakat. Hunter School of Social Work adalah sebuah univeritas negeri yang dibiayai oleh pemerintah daerah State dan City of New York. Perguruan tinggi ini ditugaskan untuk khusus menangani masalah-masalah sosial yang tumbuh di Kota New York. Anda kenal daerah Bronx ? Nah, di sanalah mereka antara lain melakukan pengembangan masyarakat. Namun, yang impresif adalah pusat pembelajaran mereka yang dinamakan National Resource Center for Family-Centered Practice and Permanency Planning. Pusat pembelajaran berskala nasional ini melayani seluruh negeri Paman Sam dengan pelatihan regular dan layanan media interaktif jarak jauhnya. Web-sitenya adalah www.nrcfcppp.org. Anda boleh mengunjunginya kalau tertarik. Ada materi web cast dan teleconference-nya. Hebat dan lengkap isinya. Sekedar bumbu cerita, seorang dosen dari pusat tersebut dibayar honor kuliah dan training US$3.000 per hari kerja. Saya kaget tapi ikut bergembira karena, di sana, bidang pekerjaan sosial dihargai demikian tinggi!
Ketiga adalah nilai dan kepentingan perpustakaannya. Anda tahu berapa koleksi buku di Berkeley? Sepuluh juta buku; disimpan rapih dalam perpustakaan yang menakjubkan, 4 lantai ke dalam basement. Tidak heran mereka mampu mengadakan riset-riset berskala dunia. Di kejauhan bukit sana saya melihat bangunan pemecahan molekul, kubah untuk simulasi dan eksperimen fisika elektronika. Saya dengar mereka juga tengah melakukan penelitian besar mengenai biofuel.
Keempat, dan tidak kalah pentingnya, adalah soal persaingan (positif) antara bangsa-bangsa maju di dunia ini. Di Berkeley paling tidak ada 100 peneliti Cina dari berbagai bidang yang sedang berada di universitas itu. Setiap tahun pemerintah Cina memberikan beasiswa penelitian 1 tahun bagi 5.000 dosennya ke luar negeri. Universitas di Amerika dan Inggris menjadi tujuan utama mereka. Dosen tetap yang berlatar belakang bangsa Korea, Cina dan India sangat besar dan berpengaruh di UCL. Intinya begini; kalau suatu bangsa mendominasi Universitas California-Berkeley maka dia menguasai US. Selanjutnya, bila dia menguasai US dia menguasi dunia! Di universitas yang terkenal seantero dunia ini ada tiga bangsa Asia yang saya lihat paling menonjol: India, Cina dan Korea. Mereka keukeuh bertarung menancapkan pengaruh di universitas yang menjadi pintu gerbang ke Amerika Serikat dari wilayah Pasifik dan Asia Timur. Cina memiliki komunitas terbesar di dunia di luar negeri Cina. Korea dan Filipina juga. Bangsa Thailand juga jangan dianggap enteng lho! Buktinya, restoran Thailand sangat mendominasi jalan-jalan di San Francisco dan sangat laku.
Lanjut cerita, kebetulan saya hadir dalam suatu ceramah yang diberikan oleh seorang Profesor dengan judul the “The Politics of the Eye: Tourism and Architecture”. Ceramah yang dilangsungkan pada hari Jumat jam 7-9 malam ini dipenuhi oleh 50 orang akademisi berpengaruh dan dilengkapi benda-benda pameran. Biasanya, Jumat malam itu adalah malam santai bagi orang Amerika. Tapi, malam itu, ruang perpustakaan Departemen Arsitektur UCL dipadati orang untuk mendengar ceramah serius. Setelah ceramah saya sempat berkenalan dan menanggapi presentasinya, lagi-lagi supaya reputasi (tongkrongan) terjaga dan menunjukkan bahwa saya memahami ceramahnya. Malu kan kalau orang Indonesia (dosen UI lagi) hanya bisa bengong.
Di Washington University, dari 24 mahasiswa program doktornya, setengahnya berkebangsaan Korea. Selama menjadi mahasiswa Ph.D, beberapa dari mereka akan menjadi assistant professor lalu berharap akan diangkat menjadi associate profesor dan akhir menjadi full professor atau profesor tetap di sana. Cerita pertarungan bangsa ini sebenarnya memberikan harapan tapi sebenarnya mengerikan, apalagi kalau kita kemudian berkaca tentang di mana kedudukan bangsa Indonesia saat ini.
Tidak banyak di antara kita yang menyadari betapa pentingnya pendidikan tinggi bagi pembangunan bangsa. Pemahaman tentang kedudukan sentral pendidikan tinggi perlu kita pahami sedikit. Perguruan tinggi di negara dan bangsa mana pun, dan pada masa sejarah mana pun, adalah pusat pembelajaran tinggi, tempat ilmu pengetahuan dikembangkan. Namun, jangan kita salah mengartikan hal ini. Makna tempat mengembangkan ilmu bukan tempat pemujaan ilmu, di mana para dosen duduk sebagai lambang kerajaan ilmu pengetahuan yang memberi titah dan mengangkat hamba (mahasiswa) dengan gelar lewat pendidikan yang (sebenarnya) sangat terbatas. Perguruan tinggi adalah pusat penciptaan ilmu, membangun karya, produk unggulan, inovási dan, bersamaan dengan itu, memberdayakan masyarakatnya agar mandiri dan kuat secara ekonomi dan politiknya. Pernah dengar kawah candradimuka? Ya, seperti itulah, tetapi cara kerjanya tanpa mantra. Semua bersumbu rasionalitas dan moralitas. Di sini terkandung makna kesungguhan, keinginan yang mendalam dan nafas yang panjang untuk melangkah setapak dalam rentang kemajuan yang panjang.
Di sini dituntut kreatifitias, keberanian, kesungguhan untuk mengembangkan proyek-proyek inovatif, keberanian dan kesungguhan untuk bekerja sama dengan pihak lain, menggali potensi di dalam dan terus mendorong agar kita semua mau bekerja sama membangun lembaga. Kita harus mau dan mampu menempatkan diri kita di atas panggung akademik dalam tataran nasional dan juga dalam tataran internasional. Etos kerjanya adalah kita mampu dan kita adalah nara sumber pengetahuan yang selalu siap memberikan kontribusi bagi pemecahan masalah bangsa dan mau bekerja sama dengan pihak lain untuk memecahkan masalah secara bersama-sama. Untuk itu, kita semua harus bekerja keras untuk membangun lembaga dan organisiasi.
Tantangan eksternal dalam hal ini adalah bagaimana fakultas mampu memberikan kontribusi yang luas bagi pemecahan masalah bangsa. Kedua, tanggung jawab memberikan kontribusi kepada lingkungan eksternal. Kedudukan pimpinan fakultas adalah jabatan yang strategis yang menentukan banyak hal. Ia menentukan nasib perjalanan dan perkembangan fakultas. Fakultas bukanlah suatu entitas yang sederhana dan juga bukan tidak penting. Fakultas mewadahi sejumlah rumpun ilmu yang mapan. Ilmu pengetahuan yang ada di FISIP bukanlah cabang ilmu yang remeh. Cabang ilmu yang ada semuanya penting dan menjadi tumpuan bekerjanya birokrasi, korporasi dan komponen masyarakat madani. Kesatuan sistem pelaku masyarakat inilah yang membangun bangsa Indonesia. Kita semua mencita-citakan bangsa Indonesia yang kuat dan sejahtera. Di mana kita saat ini? Di mana keadaan bagsa Indonesia saat ini?
Saat ini bangsa dalam keadaan terpuruk. Keterpurukan yag terjadi sangat parah dan kondisi ini berpengaruh pada rasa percaya diri sebagai bangsa. Perasaan bangsa Indonesia saat ini adalah rasa penuh kekawatiran akan masa depan dan meragukan nasib di masa yang akan datang. Sejumlah ironi mewarnai situasi bangsa ini. Kita adalah negara dengan potensi sumberdaya alam terkaya di dunia, tetapi termasuk negara yang paling miskin di dunia. Kita adalah negara dengan potensi budaya terbesar tetapi hanya sanggup menjadi konsumen dan penonton dari panggung budaya internasional.
Kedua tantangan di atas harus dilaksanakan dalam suatu tataran yang cukup canggih/advanced. Mengapa canggih dan stratejik? Demikian karena kita mewarisi lembaga yang tidak kecil. FISIP adalah sebuah institusi besar yang disegani orang. UI adalah pemegang barometer kemajuan ilmu bangsa Indonesia. Jumlah mahasiswanya banyak, disiplin ilmunya berperan penting dalam masyarakat, para dosennya menjadi figur publik dan para alumni berjumlah puluhan ribu orang. Kita sesungguhnya mewarisi sebuah institusi yang besar dan berpengaruh. Positioning FISIP, dalam hal ini, tidak bisa tanggung-tanggung. Dia harus mampu memberikan jawaban pada tataran nasional dan menjembatani dimensi global. Demikian pula, bahwa nama Universitas Indonesia harus memberikan kerangka berfikir ke-Indonesiaan dan semangat integrasi bangsa ini.
Pertanyaannya adalah apakah lembaga yag besar ini sudah memberikan kontribusinya secara maksimal?
- Menjadi warga aktif dari komunitas regional
- Menjadi pusat inovasi dan keunggulan bangsa
- Membawa UI menjadi warga yang mampu meletakkan kepentingan nasional dalam perspektif global
- Membangun identitas bangsa dan jiwa yang besar sebagai modal untuk membangun kemampuan melakukan sesuatu yang besar pula.
Untuk menjawab tantangan masa depan yang demikian kompleks, ada baiknya kita berkonsentrasi pada satu masalah dulu. Kita mulai dengan satu rumusan tantangan. Apa tantangan fakultas kita saat ini dan 5 tahun ke depan? Kalau boleh saya rumuskan, tantangan FISIP saat ini dan untuk lima tahun mendatang adalah “Konsolidasi Kelembagaan dan Pengembangan Kapasitas Berkarya Akademik”. Kenapa demikian rumusannya? Penting untuk melihat diri kita sekarang. Perlu disadari bahwa FISIP saat ini, di tahun 2007, berbeda dengan FISIP lima tahun yang lalu. FISIP saat ini adalah FISIP yang mempunyai beragam fasilitas akademik yang jauh lebih baik. Sarana gedung, ruang dan fasilitas lain demikian pesat perkembangannya. Saat ini FISIP juga mempunyai berbagai macam infrastruktur kreasi pengetahuan. Kalau sudah demikian, apakah semua sudah beres? Kalau ditanya apakah sudah beres, jawabnya rasanya belum beres. Jelas belum beres, karena tantangan dunia pendidikan terus berkembang dan tidak akan ada habisnya. Menghadapi frontier atau wilayah kerja nasional saja kita sekarang agak kedodoran, apalagi tantangan akademik di tataran internasional.


Sebagai alumni, saya juga mempunyai harapan yang sama, bahwa FISIP memang mampu ‘memberikan’ lebih dalam menjawab tantangan-tantangan di masyarakat.
Satu hal yang saya ingin tambahkan, adalah pentingnya networking dan alumni bagi ivy league universities di dunia dalam mengembangkan lembaga pendidikan tinggi. Networking dengan alumnus-alumnus ini yang bisa menjadi bagian dari konsolidasi untuk melangkah maju. Mudah-mudahan Mas Bambang juga bisa melibatkan alumni-alumni FISIP untuk ikut mengembangkan FISIP.
Satu hal yang terpenting adalah semoga alumni-alumni FISIP juga tergerak untuk membangun almamaternya.
Assalamu’alaikum
Hi. Mas Bambang
Semoga diberikan kesehatan oleh Yang Maha Kuasa
Sebagai Alumni FISIP UI, dan mantan asisten, saya terkesan dengan perkembangan FISIP UI saat ini, semoga terus berkembang…menjadi fakultas Kelas Dunia
Tulisan mas Bambang, bagi saya menginspirasi untuk berperan serta lebih aktif dalam pengembangan pendidikan Indonesia, khususnya bidang kesejahteraan sosial…
Semoga hidup kita bermanfaat….
Salam,
Ismet
Tidak banyak akademisi kita saat ini yang melihat aspek kelembagaan sebagai faktor yang cukup berperan dalam menghambat upaya keras memperbaiki mutu perguruan tinggi kita. Kurang berkembangnya penelitian baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif sering hanya dianggap sebagai akibat terbatasnya dana penelitian yang tersedia. Lalu bagaimana dengan dana penelitian yang tidak terserap diberbagai lembaga baik pemerintah maupun swasta? Bagaiman dengan hasil penelitian yang menumpuk di berbagai perguruan tinggi dan lembaga penelitian namun tidak dimanfaatkan? Bagaimana dengan sejumlah besar calon peneliti yang frustrasi karena tidak berhasil menemukan sumber dana penelitian, atau tidak menemukan academic community yang akan menjadi pendukungnya? Ini mungkin merupakan gambaran adanya hambatan kelembagaan (crisis in institutional arrangement). Kalau ciris yang satu ini tetap disepelehkan kita sulit berharap dari terobosan yang sekarang didengungkan. Saya setuju dengan Prof. Bambang Shergi menempatkan masalah ini dlm titik perhatian. Selamat!