Untuk mendekati persoalan FISIP, kita harus mulai dari perspektif yang sedikit makro sifatnya. Kita perlu bertanya, apa peran dan potensi apa yang dimiliki? Apa sebenarnya kelemahan ilmu pengetahuan yang ada di Indonesia saat ini? Pertama, saya akan jawab, kelemahannya ada pada tidak terkaitnya ilmu pengetahuan dengan masalah bangsa. Maksudnya? Ilmu pengetahuan kita tidak connect. Masalah atau tantangan bangsa yang harus dijawab ilmu pengetahuan adalah pertama bagaimana meningkatkan karya inovasi bangsa yang dapat dipergunakan dan dapat memberikan nilai tambah bagi ekonomi dan kualitas hidup masyarakat dan yang kedua bagaimana membangun kapital sosial atau kebudayaan (termasuk kelembagaan dan sumberdaya manusia) yang diperlukan untuk mencapai kemajuan ekonomi dan kemanusiaan.
Kedua unsur yang baru disebut tentunya tidak terpisah. Kedua unsur tersebut, yakni inovasi dan kematangan kelembagaan sangat bertautan. Tidak ada inovasi bila tidak ada kekuatan budaya. Sebaliknya, kebudayaan yang unggul bila dinafikan keberadaannya oleh tujuan ekonomi pragmatis, maka ia akan hancur dengan sendirinya. Inovasi dan keberadaan kelembagaan pemerintah dan swasta yang kuat sangat ditentukan oleh seberapa kuat perguruan tingginya.
Dalam pandangan saya, perguruan tinggi saat ini terjebak dalam tiga jurang yang dalam. Tiga situasi berbahaya itu adalah sebagai berikut :
Pertama adalah orientasi kurikulum kita yang sangat mono-disiplin. Sekat keilmuan kita sangat ketat. Sayang sekali saat ini setiap cabang ilmu seakan enggan berinteraksi dengan disiplin ilmu lain. Cermin situasinya seakan berkata, ”ini warungku mana warungmu”. Maksudnya sesama warung jangan saling bersinggungan. ”Jangan saling menggangu nafkah dan rejeki masing masing”, begitulah kira-kira keadaannya. Nuansa psikologis ini bisa lebih parah adanya, ketika satu disiplin ilmu bahkan menganggap disiplin lain dengan sebelah mata.[1] Misalnya dengan melihatnya aneh, tidak penting dan tidak berkenaan dengan disiplin ilmuku.
Kedua tidak berorientasi pemecahan masalah. Kurikulum kita cenderung hilang fokus karena tidak cukup waktu untuk mengolah suatu kerangka strategi pemecahan masalah secara terintegrasi. Yang terjadi adalah bahwa kurikulum kita menjadi terobsesi dengan persoalan detil isi pengajaran, tapi kehilangan orientasi pemacahaman masalah, khususnya yang bersifat makro dan nasional. Demikian sibuknya kita mengajar kuliah sebanyak mungkin dan sibuknya kita mencetak sarjana, akhirnya kita lupa untuk memikirkan pemecahan solusi bangsa.[2] Kita terjebak pada pengajaran saja. Kuliah ’teng’ selesai, pulang ke rumah. Ga nyalahin sih. Maklum kita semua punya banyak urusan.
Ketiga tidak berwawasan ruang (space). Lulusan kita tidak diperkenalkan pada konteks wilayah atau daerah, mereka hanya dibekali dengan pemahaman konseptual yang tidak menjejak dengan kenyataan. Perspektif ilmu yang dikembangkan kita selama ini tidak cukup menuntun kita untuk mengenal kondisi Indonesia Timur, misalnya. Komposisi mahasiswa Sarjana Satu (S1) kita juga tidak mencerminkan perwakilan daerah dan budaya yang memungkinkan kita lebih mengenal daerah-daerah di negeri kita. Kita tidak seperti orang Singapura yang konsisten mengembangkan pengetahuan regional ASEAN-Asia dan lintas lingkaran yang menjangkau kawasan dunia, dimana negaranya menjadi sentral kekuatan keuangan dunia. Saya kira mestinya, dimensi kewilayahan, khususnya yang strategik, harus masuk dalam perhatian kita semua. Daerah perbatasan, daerah pertambangan utama, daerah isolasi dan daerah pusat pertumbuhan harusnya lebih sering dibicarakan secara holistik dan menjadi salah satu kompetensi lulusan pendidikan FISIP UI.
Syukur-syukur wawasan kewilayahan ini bisa mencakup wawasan geo-politik Indonesia, Malaysia/Singapura (minimal), ASEAN dan seterusnya Asia-Australia. Mungkin kritik ini lebih pas untuk pendidikan pascasarjana, dimana seharusnya mahasiswa dapat diberikan perpektif yang holistik sehingga mampu berfikir integratif. Untuk kepentingan ini, sangatlah ideal bila program pasca sarjana kita dapat menyisipkan persepsi masalah kewilayahan.[3] Menurut saya, kurikulum pada tingkat pasca sarjana seharusnya menyisipkan sedikit wawasan kewilayahan dan memiliki simulasi pembangunan wilayah yang terintegrasi. Disinilah letak keunggulan dari pendidikan pascasarjana di Universitas Indonesia.
Terkait dengan studi wilayah, teringat pertemuan saya dengan Wakil Duta Besar Indonesia untuk Malaysia, Desember 2007. Dalam diskusi yang panjang, beliau mengharapkan lebih banyak peneliti Indonesia dapat memberikan perhatian terhadap masalah Indonesia Malaysia. Banyak sekali potensi yang dapat dikembangkan untuk kajian terkait dengan masalah bilateral dan juga di sekitar pembentukan masyarakat ASEAN di kemudian hari.
Intinya, kita semua perlu menyadari bahwa perguruan tinggi tidak boleh berhenti sekedar menghasilkan wisudawan. Artinya, tugas perguruan tinggi bukanlah sekedar mengajar dan menghasilkan lulusan. Perguruan tinggi diharapkan menemukan solusi, menciptakan keunggulan dan turut membangun kekuatan masyarakat untuk memecahkan masalahnya sendiri. Penelitian, adalah salah satu cara untuk memecahkan masalah bangsa. Memang itu peran kita, peran perguruan tinggi. Sebuah universitas riset diciptakan untuk menghasilkan buah karya unggulan, kalau tidak menggunakan kata ’mahakarya’.
Sebuah karya monumental datang hanya akan datang dari keleluasaan berfikir yang dibangun dengan ransangan beragam dimensi. Kemampuan manusia ada di situ, mengolah dan mengintepretasi, merasakan serta termotivasi dari interaksinya dengan alam sekitarnya. Suasana interaksi untuk mendorong karya akademik inilah yang harus diciptakan bersama. Tiga unsur yang disebut di awal tulisan, yakni dimensi interdisiplin, dimensi permasalahan holisitik dan wawasan ruang adalah unsur-unsur yang perlu kita masukkan dalam ruang lingkup kegiatan akademik kita bersama.
Untuk mengolah lebih lanjut, saya mengajak kita berfikir lebih imajinatif lagi. Untuk mendeskripsikan bentangan ilmu yang ada saat ini saya mencoba membuat empat buah kuadran dibangun dari dua aksis, yakni aksis wawasan kewilayahan dan aksis rentang kerjasama antar bidang ilmu (diagram 1). Dalam pandangan saya, disiplin ilmu yang ada di FISIP UI harusnya beranjak dari kuadran 1 menjadi 3. Artinya minimal, penguasaan substansi ilmunya mampu menjangkau kerjasama antar disiplin ilmu lain dan mampu menjangkau isu yang bersifat nasional. Lebih ideal bila ruang gerak ilmu bergeser ke arah hal-hal yang bersifat internasional (kuadran 2 dan 4).
Artinya, mahasiswa dapat menguasai isu-isu pembangunan nasional dengan kerangka berfikir global. Bagi saya pemahaman situasi global sangatlah penting dan tidak terlepas dari pentingnya kita menguasai elemen regional (pemahaman kawasan) yang langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kinerja pembangunan bangsa kita. Saya teringat kata-kata yang berbunyi ”globalization can be the cause of the problems, but it can also be the solution to the problems”. Artinya, sangat mungkin bagi kita mencarikan berbagai solusi dengan menggunakan mekanisme global, dengan syarat kita sebagai bangsa cukup cerdik dan berusaha keras menunjukkan betapa kita semua dapat bersatu dan betul-betul berniat bekerjasama unntuk memecahkan masalah bangsa ini, kini dan di kemudian hari.
Diagram 1.
Kuadran Pengembangan Perspektif Integrasi Ilmu
sebagai Basis Kerjasama Multi-disiplin
Perspektif Nasional
|
Kualitas I |
|
Kualitas II |
|
Kualitas III |
|
Kualitas IV |
|
|
Mono-disiplin/ Multi/Trans Disiplin/
Mono-Profesi Multi-Profesi
Perspektif Internasional/Global
Keterangan : Wilayah kajian/riset dan kerjasama multidisiplin untuk isu
strategik kebangsaan : human security, masalah TKI, poverty dll
Dalam konteks ini, saya memandang memang sudah saatnya hasil riset menjadi sumber pembelajaran yang dominan. Sejumlah Puska harus menjadi sentral pembelajaran yang mampu menyediakan bahan pengajaran yang bersifat komplementer dari proses pengajaran yang berlangsung dalam kelas. Pembelajaran yang ideal dalam hal ini, mempunyai tahapan yang bersifat integratif-analitis, yakni analisis multi-displin yang berfokus pada pemecahan masalah pembangunan.
Adalah penting bagi kita untuk mengupayakan agar mahasiswa kita mampu berfikir secara integratif, artinya menimbang dan menyertakan sumbangan keahlian dan analisis yang akhirnya mampu memberikan solusi yang saling bersinergi dan berperan secara proporsional. Pemikiran yang harus ditinggalkan adalah cara berfikir yang mono disiplin dan disiplin chauvinistic yang mana berpretensi bahwa hanya disiplin ilmunyalah yang paling berperan, paling berpengaruh dan paling benar. Cara berfikir beginilah yang salah dan harus ditinggalkan. Bukankah cara berfikir yang terkotak-kotak inilah yang membuat banyak masalah disekitar kita berlama-lama bertahan dan terus berkembang lebih parah?
Ada satu pandangan penting yang perlu disampaikan terkait dengan integrasi ilmu. Sebenarnya, dan tanpa disadari bahwa bidang ilmu lain juga menanti sumbangsih ilmu sosial untuk memecahkan beragam masalah dalam masyarakat. Tema besar terkait dengan upaya ketahanan industri misalnya, bagaimana mengatasi kesenjangan digital, bagaimana membangun ekonomi daerah terpencil dan contoh lain, semuanya membutuhkan sentuhan ilmu-ilmu sosial. Penanganan flu burung, demam berdarah, AIDS dan lainnya memerlukan bantuan disiplin ilmu komunikasi, sosiologi dan kesejahteraan sosial. Ketahanan industri kita memerlukan analisis dan program pemberdayaan institusi yang memerlukan. Intinya mari kita keroyok rame-rame, mari kita semua memberi makna ilmu kepada masyarakat ini. Kapan lagi dan siapa lagi kalau bukan oleh kita semua yang ada di perguruan tinggi.
Tentunya tidak semua tahapan pendidikan di berbagai jenjang pendidikan harus bersifat kolaboratif. Puska dapat menjadi pusat pembelajaran dalam salah satu kuliah atau bidang pendalaman yang berlangsung dalam format simulasi kebijakan, semacam laboratorium kebijakan yang memberikan pengalaman.
Kita semua harus berfikir dan menetapkan masalah prioritas apa yang akan menjadi unggulan fisip. Hal ini terkait dengan kebijakan universitas yang menetapkan policy studies sebagai salah satu frontier science yang harus dikembangkan. Saat ini saya melihat potensi bidang kajian konflik, governance dan studi globalisasi. Untuk itu puska yang dapat berperan adalah antara lain :
Ceric : studi integrasi sosial dan pencegahan konflik
Pacifis : mendorong penguatan dan peran serta civil society
Ceacos : memberikan pemahaman tantangan peluang globalisasi, regionalisme dan kajian wilayah.
Puska Departemen : sebagai teaching lab dan laboratorium pembangunan dengan olahan kajian tematik
Pusat-pusat kajian di FISIP akan mempunyai peran yang penting, sedangkan puska departmen di masa yang akan datang perlu diarahkan untuk memperkuat teaching laboratorium untuk pendidikan Sarjana Satu. Terkait dengan upaya kita untuk membangun laboratorium kebijakan, maka perlu disebut hadirnya World Bank Corner. Sudut informasi pembangunan internasional ini akan diresmikan pada bulan Agustus 2009 bersamaan renovasi dan perluasan ruang di lantai dasar MBRC. Kelengkapan teaching resources di lingkungan FISIP akan membuka kesempatan bagi kita semua untuk membangun kajian dan pengajaran yang dengan tema yang lebih luas dan mendalam serta memperkuat pengajaran yang berbasis riset.
Sosialisasi kajian kepada publik juga merupakan hal yang penting. Opini intelektual, analisis dan pandanan resmi kelembagaan FISIP penting dihadirkan kepada publik. Untuk itulah kiranya penting bagi kita untuk berfikir tentang adanya Policy Portal FISIP UI. Unit kerja ini adalah wahana komunikasi publik untuk pemikiran dan kebijakan dari FISIP UI. Portal ini akan memuat analisis, rekomendasi kebijakan dan memberikan statement kebijakan secara periodik kepada publik. Disinilah ilmu kita ditantang, atmosfir akademik dan profesionalisme diuji. Sebuah tim redaksi yang kuat harus hadir untuk menjalankannya. Sebuah jurnal fakultas berbahasa Inggris dapat menjadi komponen penting disini. Melalui portal ini semua puska dapat berkumpul dan memberikan representasi keilmuannya dengan leluasa kepada masyarakat. Media virtual adalah wahana tanpa batas.
Tantangan di atas memang perlu kita cerna bersama. Yang jelas, untuk menjadi Universitas yang noted, tentunya kita dapat berikhtiar dalam banyak hal. Inti dari perguruan tinggi adalah manajemen dan reproduksi ilmu. Ilmu harus tumbuh dan berkembang, bukan hanya untuk dialihkan. Dengan kecenderungan untuk konvergensi ilmu-ilmu saat ini, kiranya kita perlu membuat terobosan yang andal dalam cara kita menyelenggarakan pendidikan. Nampaknya, saat ini tidak pantas kita untuk tetap memelihara benteng ilmu dari masing disiplin di Departemen.
Saat ini kita perlu melakukan lebih banyak kolaborasi antar ilmu untuk memecahkan persoalan konkrit yang dihadapi bangsa. Selain kita perlu terus mencabar relevansi ilmu dengan masalah, kita perlu untuk berlatih untuk bekerjasama dengan disiplin dan profesi yang berbeda-beda. Sebut saja untuk masalah pengembangan demokrasi, good governance, global environment sustainability, otonomi daerah, identitas kebangsaan, corporate citizenship, penanggulangan konflik, human security, kesejahteraan dll. Perlu juga diberi tekanan disini, bahwa nilai unggul juga harus dipadankan dengan nilai sumbangsih kebangsaan. Artinya, kita bisa saja unggul ilmu tapi tidak bermanfaat terhadap persoalan bangsa. Internasionalisasi dan segala konsekuensi teknisnya perlu tetap kita letakkan dalam kerangka memberikan content internasional untuk memecahkan persoalan bangsa yang kian rumit dan mendalam saat ini. Ingat, Indonesia harus survive dalam era globalisasi ini. Saya teringat kutipan Jeff Sachs (2008) yang mengingatkan tantang regional sebagai berikut : “with well over half the world’s population, fast growing Asia will also become the center of gravity of the world economy”. Indonesia adalah bagian penting dari Asia, bahkan dunia.
Kurikulum dan kelembagaan FISIP kedepan harus memungkinkan kita semua untuk bergelut secara ilmiah baik dalam konteks mono disiplin tetapi juga mampu berkolaborasi antar ilmu. Pada tataran yang lain, perspektif kita juga harus melintas dari sekedar persepektif nasional tetapi juga peka terhadap ancaman dan peluang global. Inilah kualitas lulusan Universitas Indonesia yang kita inginkan saat ini.
[1] Padahal jika mengacu pada Evers & Gerke (2006), ilmu pengetahuan yang terangkum dalam kurikulum haruslah memiliki nilai strategis yang dapat menghubungkan ilmu itu dengan jaringan sosial yang lebih luas. Experts who have knowledge become a strategic group. Strategic group then implement a strategy of securing the resources on a longtime basis and ensure that appropriate social, political and economic environment is created.
[2] Peter M. Senge (2000), mengemukakan pertanyaan yang penting untuk lembaga pendidikan tinggi: “Are we preparing students for the future they will live or the past we have lived through?”. Pertanyaan ini tentunya dapat menyadarkan kita tentang filosofi mendasar dari keberadaan pendidikan tinggi itu sendiri, yakni menjamin kemanfaatan ilmu bagi individu yang dididik sehingga nilai kemanfaatan itu dapat meluas kepada orang lain melalui kiprah individu-individu tersebut di tengah masyarakat.
[3] Mengenai persepsi kewilayahan ini dapat mengacu lebih jauh pada John Agnew (1998), GeoPolitics: Re-visioning World Politics. Agnew menguraikan pentingnya pemahaman kewilayahan sebagai pelengkap dari perspektif dan praktek globalisasi yang semakin meluas. Setiap aktor dalam proses globalisasi tidak hanya harus bersiap untuk kondisi tanpa batas (borderless), tetapi juga harus mampu memahami kondisi spesifik di teritori tertentu dalam keadaan tanpa batas tersebut. Artinya dimensi ekonomi yang sangat dominan dalam kerangka globalisasi, haruslah diimbangi dengan kenyataan bahwa dimensi politik berupa kepentingan-kepentingan yang merepresentasi entitas teritorial yang tergilas oleh globalisasi justru akan terus menyertai dalam proses globalisasi itu sendiri.

