Tantangan fakultas di atas tidaklah sederhana. Kompleksitas tantangan fakultas terletak pada posisinya yang harus mencerna dan menurunkan kebijakan ke fakultas. Demikian pula disadari bahwa fakultas juga harus memahami realita kelembagaan yang ada saat ini. Terkait dengan besarnya tantangan ini, saya harus menjelaskan alasan ikut dalam pemilihan Dekan FISIP UI. Paling tidak harus dijelaskan latar belakang, motivasi dan kualifikasi profesional yang saya miliki. Penjelasan ini penting bukan untuk sekedar menjelaskan latar belakang dan alasan mencalonkan diri. Lebih penting lagi, agar hadirin bisa menilai apakah kandidat ini layak dan diperkirakan mampu mengemban tugas serta menjawab tantangan fakultas di masa yang akan datang. Ini penting untuk untuk kita ketahui semua.
Keterlibatan saya dalam manajemen fakultas adalah kesinambungan kerja yang telah dirajut sejak lama. Pada tahun 1992, saya sudah menjadi Ketua Jurusan (sekarang disebut Departemen) Ilmu Kesejahteraan Sosial. Tugas pengembangan jurusan saya tekuni dan antara lain berhasil mendirikan program Pasca di bidang Ilmu Kesejahteraan Sosial yang pertama di Indonesia dan pada tahun 1995 mendatangkan 12 mahasiswa Belanda untuk magang di bidang kesejahteraan sosial selama 6 bulan di Indonesia. Sejak 2003 (sampai sekarang) saya diberikan kepercayaan menjabat Wakil Dekan Bidang Akademik FISIP UI. Tugas ini dilaksanakan dalam tim Dekan FISIP 2003-2007 Prof. Dr. der Soz. Gumilar R. Somantri dan Drs. (Ak) Tafsir Nurchamid, MSi sebagai wakil Dekan Bidang Non-Akademik. Tugas Wakil Dekan Bidang Akademik mencakup tanggung jawab pengelolaan manajemen pendidikan lintas program dan lintas jenjang yang mencakup kurang lebih 8000 mahasiswa FISIP UI dari 35 jenis program yang ada.
Tugas Wakil Dekan Bidang Akademik mencakup penjaminan mutu, kalender akademik, sistem informasi dan pembinaan kurikulum. Dalam perjalanan tugas, saya pernah menjabat sebagai Pelaksana Harian Dekan FISIP UI dan selanjutnya menjadi Pejabat Dekan FISIP UI (sejak Agustus 2007). Dalam empat tahun terakhir, saya telah mengarahkan seluruh proses dalam kalender akademik, mendorong peningkatan status akreditasi, mendorong integrasi program Ekstensi ke dalam Departemen, membangun implementasi SIAK serta melaksanakan Rapat Kerja Fakultas untuk menyusun kurikulum baru. Dalam bidang pengembangan kelembagaan, saya telah berinisiatif untuk merintis dan mengawal seluruh proses pendirian program Doktor bagi Ilmu Hubungan Internasional, Kriminologi dan Ilmu Kesejahteraan Sosial, yang diharapkan akan dibuka pada semester Ganjil tahun ajaran 2007/2008.
Dalam perjalanan tugas ini pula saya menjadi anggota Senat Akademik Universitas dari unsur dosen (sampai dengan Oktober 2007). Dalam penugasan sebagai anggota SAU, saya ikut dalam keanggotaan di 2 Pansus (Pansus Tata Tertib, Penataan Program Studi) dan 2 Panja SAU (Panja Kebijakan Pengajaran Berbasis Riset dan Panja Sosialisasi Surat Keputusan SAU).
Memantapkan identitas dan mewujudkan komitmen nilai kemanusiaan adalah suatu proses yang terus berjalan dalam diri saya. Dalam perjalanan di bidang akademik, saya terus menggulirkan berbagai inisiatif untuk memberikan kontribusi pada masyarakat. Saya ikut membantu membangun Kelompok Kerja Humaira (1998), Yayasan Peduli Pendidikan Anak Aceh untuk mendukung pendidikan anak pasca tsunami, program Academic Recovery Intiative untuk rehabilitasi pendidikan perguruan tinggi pasca konflik di Ambon (2004), ikut mendirikan Pusat Kajian Disabilitas FISIP UI (2006) dan revitaliasi Komunitas Forensik Indonesia (2007). Pada beberapa kesempatan saya ikut membangun program di Yayasan Dompet Dhuafa (2004). Lebih lanjut di bidang kemasyarakatan, saya menjabat Ketua Rukun Tetangga di dua tempat yakni di RT/RW di perumahan Bukit Cengkeh II (1996-1999) dan di RT03/09 (2005-sekarang) di Perumahan Pondok Duta II, keduanya di Depok.
Perlu dipertegas bahwa ada sejumlah karakter atau sosok yang diperlukan FISIP terkait dengan dua tugas utama sebagai berikut. Pertama, dekan diharapkan dapat melakukan konsolidasi efektif dari organisasi secara internal. Ini mencakup banyak hal. Kandidat yang diperlukan adalah yang memiliki sifat inklusif dan mampu merajut kebersamaan. Mengenai tantangan konsolidasi, perlu saya sampaikan satu hal penting. Yang menjadi penting saat ini adalah terus melakukan konsolidasi kelembagaan dalam kerangka transisi BHMN/BHP dan terus mendorong kearah pengembangan kemampuan berkarya akademik. Transisi menuju BHP dan rencana integrasi akademik serta keuangan adalah sejumlah tantangan yang ada di depan mata kita. Inilah ruang kosong yang harus kita isi. Ruang ini entah disadari atau tidak adalah ruang yang masih perlu terus kita dorong dan kembangkan. Kita harus menjalin apa yang sudah ada dengan upaya-upaya yang sinambung. Lebih inti lagi esensinya adalah pengembangan unit-unit organisasi yang ada di fakultas untuk berkembang dan menjalankan “Tri Dharma Perguruan Tinggi” secara lebih berkualitas.
Kedua, tanggung jawab membangun kontribusi kepada lingkungan eksternal fakultas. FISIP telah dan terus dituntut untuk memberikan karya-karya bagi kemajuan masyarakat. Sebagai fakultas, FISIP telah mencetak tenaga intelektual, kaum terdidik yang berkiprah langsung dalam insitutsi pemerintahan, korporasi dan masyarakat madani. Sumberdaya manusia yang handal adalah kunci bagi kemajuan bangsa. Namun, FISIP harus bergerak beyond dari menciptakan lulusan dan menyelengarakan wisuda. FISIP harus menjadi insititusi yang dapat menjadi catalyst perubahan. Boleh dikata, tidak ada sisi pembangunan manusia yang tidak disentuh oleh ilmu-ilmu sosial. Kita harus terus meningkatkan aktualisasi keilmuan kita di masyarakat. Fakultas harus siap dan dipimpin oleh leader yang sanggup membangun engagement, antara lain dengan universitas di luar negeri. Perubahan masyarakat dapat dilakukan dengan mendorong kolaborasi ilmu antara Departemen dalam fakultas dan antar disiplin ilmu antara fakultas dan juga antar universitas. FISIP harus menjadi leader dalam perubahan dan siap pula menjadi mitra sejajar bagi perubahan bersama institusi lain dalam masyarakat, baik di dalam maupun di luar negeri.
Saya yakin dapat menjawab tantangan di atas, yakni untuk membawa FISIP lebih maju dari sekarang. Saya cukup berpengalaman, konsisten dan tekun dalam menekuni karier manajemen akademik selama 15 tahun terakhir. Intinya, I care and I am there ! Saya berharap bahwa sidang pembaca dapat diyakinkan bahwa saya mampu, mempunyai integritas dan sangat diperlukan dalam era perkembangan FISIP saat ini. Saya mencalonkan diri menjadi dekan karena saya ingin melakukan suatu yang terbaik untuk fakultas ini. Memimpin lembaga adalah panggilan tanggung jawab yang harus saya laksanakan. Memimpin dalam hal ini berarti mendorong, mengarahkan dan memastikan usaha kita memberikan hasil yang membawa manfaat buat semua, tanpa terkecuali. Terus terang saya berobsesi untuk menghadirkan gaya kepemimpinan yang berbeda serta ingin memberikan nuansa rekonsiliasi keIndonesiaan dalam kehidupan kampus kita.
Saya yakin pada akseptabilitas dan kemampuan penetrasi personal kepada civitas akademika, khususnya para dosen dari berbagai Departemen. Selama 5 tahun terakhir, saya telah bergelut, menyelami dan berdampingan dengan civitas akademika FISIP UI membangun institusi. Selanjutnya, saya akan bergerak secara lebih intens memotivasi kawan-kawan dan mengajak mereka mau bekerja secara intens untuk fakultas. Kedekatan personal terus terang sangat penting buat saya dan menjadi modal untuk memotivasi teman-teman di kampus untuk selalu berbuat yang terbaik FISIP UI dan karir masing-masing.
Pemilihan dekan bulan April 2008 inilah momentum untuk melaksanakan tanggung jawab tersebut. Apa rumusan tanggung jawab tersebut ? Tanggung jawab seorang akademisi, tugas seorang yang berada dalam bagian dari sebuah universitas terkemuka di negara ini untuk menyelamatkan bangsa dari kehancuran lingkungan, kemiskinan dan disintegrasi sosial.


Pak, bagaimana dgn kondisi di Indonesia yg sekarang sedang dilanda dengan banyak masalah sosial yg sifatnya multi dimensi…? Barangkali ada baiknya (sekedar usulan lho pak) bagaimana apabila mahasiswa sejak awal dirangsang dan diarahkan minatnya utk lebih peka terhadap masalah2 sosial dan ikut memberikan kontribusi dalam memberikan alternatif solusi dari berbagai sudut pandang keilmuan. Hal ini bisa dalam bentuk suatu mata kuliah atau forum diskusi yg berkesinambungan (tentunya melibatkan pakar-pakar atau fihak terkait), hasilnya bisa didokumentasikan untuk lebih memperkenalkan pemikiran-pemikiran cendikiawan dari FISIP UI kepada publik tentang kondisi masyarakat Indonesia saat ini. (Atau kalau mau bisa juga dijadikan sebagai sumbangan pemikiran ke BAPENAS…?) Dengan demikian setelah lulus menjadi lulusan FISIP UI mereka tdk hanya mau kerjanya di kantoran saja tetapi juga mau /berkeinginan membangun masyarakat untuk menciptakan masyarakat yang madani.
)
Sebelumnya maaf ya Pak kalau comment saya tdk cocok ( mungkin krn ilmu saya lebih cetek nih…