<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Bambang Shergi Laksmono &#187; Artikel</title>
	<atom:link href="http://bambangshergi.wordpress.com/category/artikel/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bambangshergi.wordpress.com</link>
	<description>BECAUSE I CARE</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 Apr 2008 07:22:38 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='bambangshergi.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/5a1612ac4142cda9a5328f917f685ebf?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Bambang Shergi Laksmono &#187; Artikel</title>
		<link>http://bambangshergi.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bambangshergi.wordpress.com/osd.xml" title="Bambang Shergi Laksmono" />
		<item>
		<title>Cover Booklet Calon Dekan 2008-2012</title>
		<link>http://bambangshergi.wordpress.com/2008/04/08/cover-booklet-calon-dekan-2008-2012/</link>
		<comments>http://bambangshergi.wordpress.com/2008/04/08/cover-booklet-calon-dekan-2008-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Apr 2008 07:22:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambangshergi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Perjalanan]]></category>
		<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bambangshergi.wordpress.com/?p=46</guid>
		<description><![CDATA[
       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bambangshergi.wordpress.com&blog=2219436&post=46&subd=bambangshergi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://bambangshergi.files.wordpress.com/2008/04/revisi-cor23.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-49" src="http://bambangshergi.files.wordpress.com/2008/04/revisi-cor23.jpg?w=500&#038;h=377" alt="" width="500" height="377" /></a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bambangshergi.wordpress.com/46/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bambangshergi.wordpress.com/46/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bambangshergi.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bambangshergi.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bambangshergi.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bambangshergi.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bambangshergi.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bambangshergi.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bambangshergi.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bambangshergi.wordpress.com/46/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bambangshergi.wordpress.com/46/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bambangshergi.wordpress.com/46/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bambangshergi.wordpress.com&blog=2219436&post=46&subd=bambangshergi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bambangshergi.wordpress.com/2008/04/08/cover-booklet-calon-dekan-2008-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/be4e29deed2315064eb6b276de50d439?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bambangshergi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bambangshergi.files.wordpress.com/2008/04/revisi-cor23.jpg?w=500" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Tumpulnya Pendidikan dan Bangsa Penelan</title>
		<link>http://bambangshergi.wordpress.com/2008/01/17/tumpulnya-pendidikan-dan-bangsa-penelan/</link>
		<comments>http://bambangshergi.wordpress.com/2008/01/17/tumpulnya-pendidikan-dan-bangsa-penelan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jan 2008 01:23:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambangshergi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bambangshergi.wordpress.com/2008/01/17/tumpulnya-pendidikan-dan-bangsa-penelan/</guid>
		<description><![CDATA[


Saya tidak tahu ya, mungkin tidak ada negeri lain yang lebih banyak menelan daripada negeri Indonesia yang kita cintai ini.

Segala bentuk eksperimentasi Bank Dunia dan IMF kita telan habis-habis. Lumatan ide dan kunyahan rumus pembangunan dari para konsultan barat itu kita telan dengan sempurna. Bahkan ludahnya kita rasakan lezat. Bersamaan dengan itu, kita senang dielus-elus. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bambangshergi.wordpress.com&blog=2219436&post=28&subd=bambangshergi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div align="justify"></div>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">
Saya tidak tahu ya, mungkin tidak ada negeri lain yang lebih banyak menelan daripada negeri Indonesia yang kita cintai ini.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Segala bentuk eksperimentasi Bank Dunia dan IMF kita telan habis-habis. Lumatan ide dan kunyahan rumus pembangunan dari para konsultan barat itu kita telan dengan sempurna. Bahkan ludahnya kita rasakan lezat. Bersamaan dengan itu, kita senang dielus-elus. Bangsa ini senang dibelai ketika duduk manis, seringkali berada di tempat tidur, nyenyak, manakala harta bendanya digarong habis!</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Maaf, kalau kalimat di atas agak keras. Tapi, memang sejauh ini Indonesia seakan tidur panjang. Entah ditidurkan secara sengaja atau memang kita saja yang malas befikir. Seharusnya bangsa Indonesia lebih sadar diri (menyadarkan diri) akan tantangan pembangunan dan tantangan global. Menurut saya, bangsa yang lemah bersumber dari pendidikan lemah. Solusi bangsa, dengan demikian, harus mulai dari dunia pendidikan. Ya, dari kita-kita inilah!</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p><span id="more-28"></span></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Sebenarnya ada beberapa pertanyaan besar yang belum bisa saya jawab tuntas mengenai negeri ini. <i>Pertama</i>, kenapa Indonesia tidak bisa berhasil seperti Korea dan Taiwan dalam proses industrialisasinya, padahal kita mulai pada tataran mula yang sama pada awal tahun 60&#8242;an ? Maaf saja bagi bangsa lain kalau saya gunakan perumpamaan ini: miskinnya orang Korea dan Taiwan pada saat itu persis sama dengan miskinnya kita orang Indonesia. Akhir-akhir ini kita juga silau dan cepat tersinggung dengan kemajuan (yang luar biasa) dari Malaysia. Jawabannya singkat saja untuk sementara: konsolidasi ekonomi kita tidak mantap.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><i>Kedua,</i> apa yang akan kita lakukan dengan utang luar negeri kita yang demikian besar kepada lembaga pinjaman multilateral? Jawabannya singkat: minta alih hutang (<i>debt swap</i>).</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><i>Ketiga</i>, apa yang dapat dilakukan oleh tenaga terdidik bangsa, para akademisi dari perguruan tinggi terkemuka seperti Universitas Indonesia? Apa yang dapat dilakukan oleh UI untuk membenahi semua ini? Jawabanya singkat: konsolidasi integrasi keilmuan untuk mendukung kebijakan industri dan pemenuhan hak-hak kewarganegaraan.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Secara teoretik ada tiga level sumbangsih kita sebagai universitas unggulan negeri:  1) pengembangan sumber daya manusia, 2) dukungan pengembangan kelembagaan, dan 3) pembangunan sistem legitimasi. Ketiga hal ini variabel besar, tapi biarlah. Kita memang harus berfikir besar.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Mengenai sumberdaya manusia (poin 1), saya punya cerita menarik. Demikian tergantungnya kita dan enggannya kita belajar ke luar negeri sehingga lembaga peminjam seakan berkata <i>&#8220;Don&#8217;t send your people to study abroad, just let me send you my consultants.&#8221; </i>Coba, apakah sikap ini baik untuk bangsa ini?</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Cina saat ini mengirim 5.000 dosennya setiap tahun ke luar negeri untuk melakukan studi banding dan kajian (sebagai <i>exchange fellow/visiting professor</i>) minimal selama setahun ke Amerika dan Inggris untuk mengkaji perkembangan riset di berbagai disiplin ilmu. Ini bukan bohong-bohongan. Belum lagi para mahasiswa pascasarjananya, yang semuanya tekun bekerja di laboratorium canggih. Jangan tanya soal kemampuan bahasa mereka. <i>Sorry, me speak no englis, Sir!</i> Modalnya kemampuan statistik dan tahan kerja lembur di laboratorium.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Di Warren Brown School of Social Work (Washington University at St Louis), yang kedudukannya nomor 2 terbaik di Amerika Serikat, jumlah mahasiswa doktor dari Korea adalah 11 dari 21 orang.  Para doktor Cina dan Korea inilah yang akan kembali ke negerinya masing-masing untuk membangun inovasi, keunggulan dan daya tahan industrinya yang luarrrr biaasssa itu. Lalu saya bertanya, mana orang Indonesia?</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Kebetulan saya bidangnya ilmu kesejahteraan sosial -bahasa kerennya, <i>social work dan social welfare</i>. Di Unversity of California-Berkeley, baru ada satu orang Indonesia yang sejauh ini terdaftar sebagai mahasiswa doktor di bidang <i>social welfare</i> dalam sejarah universitas itu. Namanya Abbas Sirojudin, dosen kesejahteraan sosial Universitas Islam Negeri Jakarta. Dia teman saya dan saya sangat bangga dengannya. Di Washington University-St Louis, baru ada satu orang Indonesia yang belajar di Warren Brown School of Social Work. Namanya Ni Luh Maitra Agastya, lulusan Ilmu Kesejahteraan Sosial angkatan 1999 FISIP UI. Bayangkan, kita ini sudah 60 tahun merdeka! Kesan saya, kita ini kurang agresif dan kurang serius membangun pendidikan. Saya cuma berharap orang Indonesia sekolah setinggi-tingginya di universitas terbaik dunia dan kembali jadi dosen yang baik untuk para mahasiswanya di kampus Depok-Salemba atau di mana pun di pelosok negeri ini.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Perihal kebijakan industri, saya kira kita harus tegas berfikir strategik. Ke mana kita dan di mana kita para ilmuwan sosial dalam kancah polemik kebijakan industri di Indonesia? Saya kira teman-teman dari ilmu ekonomi juga ingin memperoleh masukan kebijakan yang konstruktif. Apa sumbangsih kita dan di mana jejaring kita untuk membantu industri kecil dan menengah kita? Saya bertanya dan saya minta teman-teman membantu saya mencari jawabannya. Saya awam, tapi pernahkah kita mengkaji dampak dan peluang globalisasi? Apa dampak dari pergerakan kapital yang semakin bebas, apa dampak dari  melemahnya batas negara dan bagaimana dampak dari berkurangnya semua pembatasan serta perlindungan perdagangan dunia bagi negeri kita? Sebaliknya, bagaimana perspektif kepentingan regional Asia Tenggara dan komunitas ASEAN dapat kita bangun untuk pertahanan sosial ekonomi yang lebih baik?</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Saya berfikir tentang bangsa ini, bukan secara sektoral saja. Sekali lagi, apa persiapan kelembagaan yang diperlukan untuk sedikit bertahan dalam kontestasi perekonomian global yang mematikan ini? Dalam skala kecil, saya ingin UI mempunyai kelompok kerja globalisasi. Ada semacam kelompok yang bekerja untuk memberikan wawasan globalisasi, dalam bentuk <i>civic education</i>, yang dapat mempersiapkan diri terhadap hempasan liberalisasi perdagangan dunia. Yang jelas, kita tidak punya <i>early warning system</i> untuk itu. Berikan <i>global awareness</i> kepada masyarakat kita dan UI harus menjadi pelopor dalam mencerdaskan bangsa dalam hal ini.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Perihal legitimasi kebijakan dan perpolitikan nasional, saya kira ilmuwan sosial kita, khususnya dari FISIP UI, telah banyak menyumbang. FISIP bertaburan bintang dalam bidang pembangunan sistem politik Indonesia. Tidak terbatas dari Ilmu Politik, tetapi juga dari bidang Ilmu Administrasi, Ilmu Komunikasi dan Sosiologi. Departemen lain juga memberikan sumbangsihnya sendiri-sendiri, tetapi yang empat ini rasanya cukup menonjol. Legitimasi kebijakan mempunyai spektrum yang luas, tetapi kiranya ilmuwan sosial telah banyak berperan dalam pembangunan institusi untuk desentralisasi pemerintah daerah dan juga dalam penyelenggaraan pemilihan umum. Apakah sumbangsih kita sudah cukup? Tentu tidak.</p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">Perpaduan dari seluruh komponen perguruan tinggi tentunya akan sangat menentukan. Perguruan tinggi harusnya menjadi penggerak perubahan dan memberikan arah bagi perubahan itu.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bambangshergi.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bambangshergi.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bambangshergi.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bambangshergi.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bambangshergi.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bambangshergi.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bambangshergi.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bambangshergi.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bambangshergi.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bambangshergi.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bambangshergi.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bambangshergi.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bambangshergi.wordpress.com&blog=2219436&post=28&subd=bambangshergi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bambangshergi.wordpress.com/2008/01/17/tumpulnya-pendidikan-dan-bangsa-penelan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/be4e29deed2315064eb6b276de50d439?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bambangshergi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>The Rich Get Richer, the Poor Get Prison</title>
		<link>http://bambangshergi.wordpress.com/2007/11/29/the-rich-get-richer-the-poor-get-prison/</link>
		<comments>http://bambangshergi.wordpress.com/2007/11/29/the-rich-get-richer-the-poor-get-prison/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Nov 2007 05:30:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bambangshergi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bambangshergi.wordpress.com/2007/11/29/the-rich-get-richer-the-poor-get-prison/</guid>
		<description><![CDATA[Judul artikel ini adalah judul sebuah buku yang dikarang oleh Jeffry Reiman (1996). Terdengar lucu bukan ? Saya bahkan berfikir kalimat ini bisa kita letakkan pada sebuah baju kaos (T-Shirt) dan kalau dijual bisa laku juga. Apa sebenarnya maksud penulis buku ini ? Dalam buku ini diuraikan berbagai ragam fakta dalam masyarakat Amerika Serikat yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bambangshergi.wordpress.com&blog=2219436&post=7&subd=bambangshergi&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify">Judul artikel ini adalah judul sebuah buku yang dikarang oleh Jeffry Reiman (1996). Terdengar lucu bukan ? Saya bahkan berfikir kalimat ini bisa kita letakkan pada sebuah baju kaos (T-Shirt) dan kalau dijual bisa laku juga. Apa sebenarnya maksud penulis buku ini ? Dalam buku ini diuraikan berbagai ragam fakta dalam masyarakat Amerika Serikat yang intinya menunjukkan bahwa sistem kapitalisme selalu membawa korban yang tidak sedikit. <span>Korban yang dimaksud adalah residu dari proses pasar yang efisien dan rasional. Korban adalah unsur eksternalitas pasar. Tidak semua akan berhasil, percuma bermimpi karena pada intinya, pasar dibangun oleh suatu kepentingan modal yang akan menindas para pekerja. Demikian kira-kira pandangan Marx. Kita, para pengamat atau ilmuwan sosial, pasti kenal kritik kaum kiri terhadap paham kapitalisme ini. Korban masyarakat ini muncul dari kegagalan pasar, yakni pasar yang bertumpu pada prinsip darwi</span><span>nisme sosial. Artinya siapa yang lemah maka dia akan tersingkir dan yang kuat<span>  </span>akan semakin kuat dan berjaya ! Menurut teori Adam Smith, kesejahteraan tetap akan dihasilkan dengan bimbingan (dan direstui)<span>  </span>’tangan tak tampak (<i>invisible hands</i>)’. Ketimpangan, kemiskinan, keterlantaran yang terjadi dalam masyarakat akan segera dikoreksi atau tepatnya terkoreksi dengan sendirinya oleh tangan-tangan yang akan menyelamatkan kaum papa di negeri ini.</span></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" align="justify"><span> </span></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" align="justify">Invisible hands dalam bentuk nyata adalah sistem kesejahteraan sosial. <span>Sistem ini menangani eksternalitas, para korban ekonomi dengan cara memberikan pelayanan sosial, konseling dan tempat perlindungan. Ya intinya untuk melindungi kapitalisme juga. Karena bila si miskin dapat ditangani maka mesin ekonomi kapital akan tenang melaju. Idenya simpel sebenarnya. Persoalannya, jaring pengaman sosial ini terkadang bermasalah. Ia terbelit masalah dana yang makin berkurang, birokrasi yang kaku dan cenderung menyalahkan orang miskin dengan stigma pemalas, penipu dan tidak layak diberi bantuan. Orang miskin adalah tukang mabok dan penjudi. Terkadang memang ada benarnya sih. Masalahnya juga kompleks. Ada pengedar narkoba, anak terlantar, kekerasan dalam rumah tangga dan pembunuhan. Semua terjadi akibat akumulasi tekanan yang mengakibatkan orang melanggar hukum. Akhirnya ? Akhirnya masuk penjara alias bui alias <i>prison</i>. Entah berapa lama, sesuai dengan tingkat kejahatannya tentunya. Banyak yang jadi langganan penjara, sebagai rumah kedua dan rumah masa depan sekaligus !</span></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" align="justify"><span> </span></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" align="justify"><span>Sampai alinea ini saya kira pembaca sudah dapat membaca inti pemikiran penulis di atas. The Rich get Rich </span>and the Poor get Prison. Maksudnya jelas, ketimpangan akan semakin terjadi di negeri Paman Sam ini. Donald Trump akan semakin kaya tanpa batas dan Jeff yang fotonya saya ambil di pusat perbelanjaan jalan di Chicago akan terus <i>jobless</i> dan <i>homeless</i>. Kontras si Donald Trump dan Jeff saya sajikan dalam dua buat foto, yang satu mendeskripsikan Jeff sedang minta-minta dan satu lagi gedung baru Trump Tower di Chicago (masih dibangun dan terus mencakar langit). Gedung milik Trump yang sangat megah juga kita jumpai di New York. <span>Kita tidak akan membahas permasalahan ini secara mendalam, apalagi mengupas teori ketimpangan sosial. Kita hanya membahas pengamatan sepintas. Menarik untuk sekedar melihat dikedua belah sisi, satu yang sangat kaya dan yang satu sangat miskin.</span></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" align="justify"><span> </span></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" align="justify">Trump Tower dengan fasade kaca yang cemerlang di down town Chicago, sedang dalam proses pembangunan<span style="font-size:10pt;">. </span></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span> </span></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><a href="http://bambangshergi.files.wordpress.com/2007/12/foto-gedung.jpg" title="foto-gedung.jpg"><img src="http://bambangshergi.files.wordpress.com/2007/12/foto-gedung.thumbnail.jpg" alt="foto-gedung.jpg" /></a></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><!--[if gte vml 1]&amp;gt;                                                  &amp;lt;![endif]--><!--[if !vml]--></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" align="justify">&nbsp;</p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" align="justify"><span style="font-size:10pt;">                                                                                        ( Nov 2007)</span></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" align="justify">&nbsp;</p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" align="justify"><span>Wajah Jeff si pengemis yang “meragukan “! </span></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" align="justify"><span> </span></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"> <a href="http://bambangshergi.files.wordpress.com/2007/12/foto-pengemis.jpg" title="foto-pengemis.jpg"><img src="http://bambangshergi.files.wordpress.com/2007/12/foto-pengemis.thumbnail.jpg" alt="foto-pengemis.jpg" /></a></p>
<div align="justify"></div>
<p align="justify"><span style="font-size:10pt;">( Nov 2007)</span></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p><span id="more-7"></span></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" align="justify"> <span>Saya tidak mau tenggelam lebih jauh dalam bahasan si kaya dan si miskin. Kesimpulannya, di Indonesia banyak orang miskin dan di Amrik ternyata juga banyak. Kita stress , orang amrik juga stress. Dunia memang tidak sempurna. Tetapi mungkin ada renungan sedikit dalam sisa waktu dan tempat dalam artikel ini. Ini soal kejujuran. Saya tidak tahu bagaimana Donald Trump memperoleh kekayaannya. Apakah dia memperoleh kekayaannya dengan cara yang legal ? Pertanyaan ini agak bodoh ya. </span><span>Ya jelas legal dan jujur dalam ukuran sistem hukum ekonomi yang berlaku di Amerika Serikat. Bisnis judi yang dimiliki Trump legal dan jujur. Saya hanya teringat bahwa yang berjudi di amerika ini bukan hanya orang kaya. Orang miskin justru banyak yang berjudi. Saya dapat cerita menarik, bahwa banyak pekerja imigran illegal Cina di amerika senang pergi ke casino. Mereka datang dari pelosok kota-kota kecil dan pergi ke Chicago di hari libur. Para pekerja ilegal Cina ini kerja 10 jam sehari tujuh hari semiggu dan makan supermi telor setiap hari dan hanya belanja baju bekas di toko-toko sumbangan. Hemat dan gemar menabung. Cuma, anehnya mereka gemar berjudi. Tabungan mereka ternyata dihabiskan di meja judi. </span>Menang judi tidak seberapa tapi kalah pasti. ”<i>The only one who gets rich from gambling is the owner</i>”, kata kenalanku ini. Tapi banyak orang Cina ini tidak kapok, kehilangan 500 dollar setiap kali mengunjungi kasino. Puaaaassss , demikian mungkin pikirnya. Atau penasaran , saya tidak tahu. Kesimpulannya, yang kaya adalah Donald Trump. Sedangkan para pekerja imigran ilegal yang bertaruh nyawa dan meninggalkan anak, istri, suami dan orang tua di Cina itu semakin miskin.</p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" align="justify">&nbsp;</p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" align="justify"><span>Renungan kedua adalah teman kita si Jeff, pengemis jalanan yang ada di foto di atas. Apakah dia juga jujur ? Apakah dia mengemis sebagai sandiwara ? Apakah dia bukan penjudi dan pemabuk ? Siapa yang tahu. Apakah dia pantas dikasihani ? Jangan-jangan dia adalah seorang mahasiswa psikologi yang sedang membuat penelitian tentang perilaku derma. Coba pembaca fotonya sekali lagi. Lihat benar-benar, lihat wajahnya. Ganteng bukan ? Maksudnya, tidak kelihatan kumel dan lusuh kan ? Dalam karton yang dipegangnya, di tulis ”Lost home, lost hope dst&#8230;.” Tapi apakah di jujur ?<span>  </span>Apakah dia sekedar malas dan bertaruh pada belas kasihan orang-orang bodoh yang iba padanya. Saya agak bodoh juga, memberinya $ 1 padanya (tapi minta diperbolehkan memfoto dan wawancara kecil). Apakah dia kehilangan rumah dan kerja karena kerap mabuk dan sering berjudi? Pantaaas kalau dia kehilangan harapan (<i>lost hope</i>) kalau memang itu kesalahan dia sendiri. Jadi peminta memang enak, dikasih duit tanpa kerja dan dibuat profil artikel lagi.</span></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" align="justify"><span> </span></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" align="justify"><span>Banyak hal yang bisa direnungkan lagi. </span><span>Masalah ketimpangan sosial, kemiskinan dan masuk penjara. Namun, rasa dan rasionalitas kemanusiaan kita senantiasa di cabar, ditantang. Namun perlu selalu diingat. Kejujuran dan manfaat sesama menjadi penting untuk selalu diperjuangkan. Ekonomi harus beretika, termasuk untuk mengemis !</span></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" align="justify"><span> </span></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" align="justify"><span> </span></p>
<div align="justify"></div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;" align="justify"><span>25 Nopember 2007</span></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/bambangshergi.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/bambangshergi.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bambangshergi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bambangshergi.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/bambangshergi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/bambangshergi.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/bambangshergi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/bambangshergi.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/bambangshergi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/bambangshergi.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/bambangshergi.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/bambangshergi.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bambangshergi.wordpress.com&blog=2219436&post=7&subd=bambangshergi&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bambangshergi.wordpress.com/2007/11/29/the-rich-get-richer-the-poor-get-prison/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/be4e29deed2315064eb6b276de50d439?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bambangshergi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bambangshergi.files.wordpress.com/2007/12/foto-gedung.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">foto-gedung.jpg</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bambangshergi.files.wordpress.com/2007/12/foto-pengemis.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">foto-pengemis.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>