<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments for Bambang Shergi Laksmono</title>
	<atom:link href="http://bambangshergi.wordpress.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bambangshergi.wordpress.com</link>
	<description>BECAUSE I CARE</description>
	<lastBuildDate>Mon, 11 May 2009 16:26:16 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Comment on The Rich Get Richer, the Poor Get Prison by 1ndra6unawan</title>
		<link>http://bambangshergi.wordpress.com/2007/11/29/the-rich-get-richer-the-poor-get-prison/#comment-74</link>
		<dc:creator>1ndra6unawan</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 11 May 2009 16:26:16 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangshergi.wordpress.com/2007/11/29/the-rich-get-richer-the-poor-get-prison/#comment-74</guid>
		<description>Salam kenal Pak Bambang

Saya tertarik pada persoalan kemiskinan yang banyak terjadi di banyak pelosok negeri. Kalau yang terpikir oleh saya sekarang adalah sistem islam harus kembali kita terapkan seperti jaman Umar bin Abdul Aziz.

Beliau menarik zakat bagi semua warga muslim dan menarik pajak bagi semua warga non muslim dan hasilnya dibagi-bagikan kepada para mustahik atau orang yang berhak menerima zakat. Hal ini terus beliau terapkan hingga pejabatnya pun kebingungan harta zakat ini hendak diserahkan kepada siapa lagi, karena rakyat sudah makmur, hingga ada beberapa kegiatan kemasyarakatn yang digratiskan.

AYO SUCIKAN HARTA QTA DENGAN ZAKAT MAL !!!!!!!!!!!

semoga sukses</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam kenal Pak Bambang</p>
<p>Saya tertarik pada persoalan kemiskinan yang banyak terjadi di banyak pelosok negeri. Kalau yang terpikir oleh saya sekarang adalah sistem islam harus kembali kita terapkan seperti jaman Umar bin Abdul Aziz.</p>
<p>Beliau menarik zakat bagi semua warga muslim dan menarik pajak bagi semua warga non muslim dan hasilnya dibagi-bagikan kepada para mustahik atau orang yang berhak menerima zakat. Hal ini terus beliau terapkan hingga pejabatnya pun kebingungan harta zakat ini hendak diserahkan kepada siapa lagi, karena rakyat sudah makmur, hingga ada beberapa kegiatan kemasyarakatn yang digratiskan.</p>
<p>AYO SUCIKAN HARTA QTA DENGAN ZAKAT MAL !!!!!!!!!!!</p>
<p>semoga sukses</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Testimonials by didit susiyanto</title>
		<link>http://bambangshergi.wordpress.com/testimonials/#comment-72</link>
		<dc:creator>didit susiyanto</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 23 Feb 2009 10:07:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangshergi.wordpress.com/testimonials/#comment-72</guid>
		<description>meskipun saya bukan mahasiswa UI, kalau sekarang mas bambang jadi dekan FISIP itu merupakan anugrah bagi ui dan khususnya bagi Departemen Kesejahteraan Sosial. selamat buat mas bambang semoga sukses dan lancar selalu. amin</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>meskipun saya bukan mahasiswa UI, kalau sekarang mas bambang jadi dekan FISIP itu merupakan anugrah bagi ui dan khususnya bagi Departemen Kesejahteraan Sosial. selamat buat mas bambang semoga sukses dan lancar selalu. amin</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Menjadi Lulusan FISIP UI yang Membanggakan by udanil</title>
		<link>http://bambangshergi.wordpress.com/2007/12/27/menjadi-lulusan-fisip-ui-yang-membanggakan/#comment-71</link>
		<dc:creator>udanil</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 14:57:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangshergi.wordpress.com/2007/12/27/menjadi-lulusan-fisip-ui-yang-membanggakan/#comment-71</guid>
		<description>saya mahasiswi FISIP-HI di salah satu perguruan tinggi swasta di daerah karawaci-tangerang

saya mau tanya pak

saya mau lanjut S2 di UI bisa ga pak??
peluangnya bisa beda ga y pak?

saya awalnya daftar UI FISIP

tapi bukan keberuntungan saya atau memang nasib saya tidak di terima di UI

bisa kasih tau ga pak sarannya?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya mahasiswi FISIP-HI di salah satu perguruan tinggi swasta di daerah karawaci-tangerang</p>
<p>saya mau tanya pak</p>
<p>saya mau lanjut S2 di UI bisa ga pak??<br />
peluangnya bisa beda ga y pak?</p>
<p>saya awalnya daftar UI FISIP</p>
<p>tapi bukan keberuntungan saya atau memang nasib saya tidak di terima di UI</p>
<p>bisa kasih tau ga pak sarannya?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Mengintegrasikan Kebijakan Umum Universitas Indonesia by yangesti</title>
		<link>http://bambangshergi.wordpress.com/2008/04/08/mengintegrasikan-kebijakan-umum-universitas-indonesia/#comment-70</link>
		<dc:creator>yangesti</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 07:50:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangshergi.wordpress.com/?p=36#comment-70</guid>
		<description>aq nta kbijakn n program ui th p iaaaaaaa .....
n slayang andang ui jg</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>aq nta kbijakn n program ui th p iaaaaaaa &#8230;..<br />
n slayang andang ui jg</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on The Rich Get Richer, the Poor Get Prison by Rich Heart</title>
		<link>http://bambangshergi.wordpress.com/2007/11/29/the-rich-get-richer-the-poor-get-prison/#comment-69</link>
		<dc:creator>Rich Heart</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 10:40:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangshergi.wordpress.com/2007/11/29/the-rich-get-richer-the-poor-get-prison/#comment-69</guid>
		<description>Salam kenal P. Bambang.

Saya suka dengan artikel Anda, menggelitik pikiran dan menarik untuk disimak.
Menurut saya, masalah utama bukanlah gab antara si kaya dan si miskin, melainkan apa yang ada pada pikiran kita masing-masing.

Saya yakin akan semakin banyak orang yang terinspirasi jika kita menolong diri kita sendiri lebih dulu untuk bangkit dari keterpurukan, membuktikan bahwa kita bisa berubah menjadi lebih baik, membuktikan bahwa setiap orang layak untuk kaya. Ketika hidup kita berubah, maka akan semakin mudah bag kita membantu orang lain untuk berubah. Masalah tidak akan selesai dengan mempermasalahkan situasi dan penampakan fisik dari lingkungan, namun PIKIRAN POSITIF kita akan benar-benar memperbaiki dunia ini, minimal diri kita menajdi semakin lebih baik.

Salam SUKSES!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Salam kenal P. Bambang.</p>
<p>Saya suka dengan artikel Anda, menggelitik pikiran dan menarik untuk disimak.<br />
Menurut saya, masalah utama bukanlah gab antara si kaya dan si miskin, melainkan apa yang ada pada pikiran kita masing-masing.</p>
<p>Saya yakin akan semakin banyak orang yang terinspirasi jika kita menolong diri kita sendiri lebih dulu untuk bangkit dari keterpurukan, membuktikan bahwa kita bisa berubah menjadi lebih baik, membuktikan bahwa setiap orang layak untuk kaya. Ketika hidup kita berubah, maka akan semakin mudah bag kita membantu orang lain untuk berubah. Masalah tidak akan selesai dengan mempermasalahkan situasi dan penampakan fisik dari lingkungan, namun PIKIRAN POSITIF kita akan benar-benar memperbaiki dunia ini, minimal diri kita menajdi semakin lebih baik.</p>
<p>Salam SUKSES!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Testimonials by Jesayas Anggiat Sirait</title>
		<link>http://bambangshergi.wordpress.com/testimonials/#comment-68</link>
		<dc:creator>Jesayas Anggiat Sirait</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 14:01:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangshergi.wordpress.com/testimonials/#comment-68</guid>
		<description>SELAMAT ATAS TERPILIHNYA 

DR. BAMBANG SHERGI LAKSOMONO 
sbg Dekan FISIP UI.


Salah satu karakter yang paling kuat selama saya sempat digembleng oleh beliau adalah Mas Bambang memiliki kemampuan LISTENING (mendengarkan dengan hati) terhadap orang lain, bukan HEARING (mendengar yang hanya dengan telinga) dan ini berbeda dari dosen-dosen yg ada sebelumnya.

Juga mempunyai kepekaan, kesabaran, dan perhatian untuk orang-orang di sekitarnya, berpengetahuan luas, rendah hati, dan mudah bekerja sama krn LISTENING tadi. Saya yakin dengan terpilihnya Mas Bambang sbg Dekan FISIP UI, akan banyak perubahan2 utk mewujudkan lebih maju dan berkembangnya FISIP UI.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>SELAMAT ATAS TERPILIHNYA </p>
<p>DR. BAMBANG SHERGI LAKSOMONO<br />
sbg Dekan FISIP UI.</p>
<p>Salah satu karakter yang paling kuat selama saya sempat digembleng oleh beliau adalah Mas Bambang memiliki kemampuan LISTENING (mendengarkan dengan hati) terhadap orang lain, bukan HEARING (mendengar yang hanya dengan telinga) dan ini berbeda dari dosen-dosen yg ada sebelumnya.</p>
<p>Juga mempunyai kepekaan, kesabaran, dan perhatian untuk orang-orang di sekitarnya, berpengetahuan luas, rendah hati, dan mudah bekerja sama krn LISTENING tadi. Saya yakin dengan terpilihnya Mas Bambang sbg Dekan FISIP UI, akan banyak perubahan2 utk mewujudkan lebih maju dan berkembangnya FISIP UI.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Saya Hadir dan SiapTerus Membangun FISIP UI by Jesayas Anggiat Sirait</title>
		<link>http://bambangshergi.wordpress.com/2008/04/08/saya-hadir-dan-siapterus-membangun-fisip-ui/#comment-67</link>
		<dc:creator>Jesayas Anggiat Sirait</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 13:48:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangshergi.wordpress.com/?p=45#comment-67</guid>
		<description>Pak, bagaimana dgn kondisi di Indonesia yg sekarang sedang dilanda dengan banyak masalah sosial yg sifatnya multi dimensi...? Barangkali ada baiknya (sekedar usulan lho pak) bagaimana apabila mahasiswa sejak awal dirangsang dan diarahkan minatnya utk lebih peka terhadap masalah2 sosial dan ikut memberikan kontribusi dalam memberikan alternatif solusi dari berbagai sudut pandang keilmuan. Hal ini bisa dalam bentuk suatu mata kuliah atau forum diskusi yg berkesinambungan (tentunya melibatkan pakar-pakar atau fihak terkait), hasilnya bisa didokumentasikan untuk lebih memperkenalkan pemikiran-pemikiran cendikiawan dari FISIP UI kepada publik tentang kondisi masyarakat Indonesia saat ini. (Atau kalau mau bisa juga dijadikan sebagai sumbangan pemikiran ke BAPENAS...?) Dengan demikian setelah lulus menjadi lulusan FISIP UI mereka tdk hanya mau kerjanya di kantoran saja tetapi juga mau /berkeinginan membangun masyarakat untuk menciptakan masyarakat yang madani.
Sebelumnya maaf ya Pak kalau comment saya tdk cocok ( mungkin krn ilmu saya lebih cetek nih...  :-)  )</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak, bagaimana dgn kondisi di Indonesia yg sekarang sedang dilanda dengan banyak masalah sosial yg sifatnya multi dimensi&#8230;? Barangkali ada baiknya (sekedar usulan lho pak) bagaimana apabila mahasiswa sejak awal dirangsang dan diarahkan minatnya utk lebih peka terhadap masalah2 sosial dan ikut memberikan kontribusi dalam memberikan alternatif solusi dari berbagai sudut pandang keilmuan. Hal ini bisa dalam bentuk suatu mata kuliah atau forum diskusi yg berkesinambungan (tentunya melibatkan pakar-pakar atau fihak terkait), hasilnya bisa didokumentasikan untuk lebih memperkenalkan pemikiran-pemikiran cendikiawan dari FISIP UI kepada publik tentang kondisi masyarakat Indonesia saat ini. (Atau kalau mau bisa juga dijadikan sebagai sumbangan pemikiran ke BAPENAS&#8230;?) Dengan demikian setelah lulus menjadi lulusan FISIP UI mereka tdk hanya mau kerjanya di kantoran saja tetapi juga mau /berkeinginan membangun masyarakat untuk menciptakan masyarakat yang madani.<br />
Sebelumnya maaf ya Pak kalau comment saya tdk cocok ( mungkin krn ilmu saya lebih cetek nih&#8230;  <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' />   )</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Program Kerja Calon Dekan 2008-2012 by Jesayas Anggiat Sirait</title>
		<link>http://bambangshergi.wordpress.com/2008/04/08/program-kerja-calon-dekan-2008-2012/#comment-66</link>
		<dc:creator>Jesayas Anggiat Sirait</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 13:34:56 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangshergi.wordpress.com/?p=42#comment-66</guid>
		<description>Waaaahh... programnya banyak sekali pak.  Khusunya saya mendukung program2 unggulan seperti : 
# Penerapan Keterampilan Komputer Wajib bagi seluruh mahasiswa.
# Realisasi kerjasama dibidang double degree dan pertukaran dosen dengan universitas terkemuka di luar negeri  
# Layanan informasi/informasi kebijakan lewat SMS bagi Pimpinan, Karyawan dan Mahasiswa. 
# Penataan Sistem dan Penerapan Arsip Digital untuk semua program.
# Persiapan penerapan ISO 8000 untuk 5 program studi dan fakultas.
# Persiapan dan penerapan Akreditasi Internasional untuk seluruh Departemen.  
# Revitalisasi unit-unit usaha tingkat fakultas (Makara Travel, Broadcasting Center, Koperasi FISIP UI).
# Pengembangan fungsi dukungan IT untuk fungsi layanan jaringan di seluruh program.
You have my vote 100%  and more.... !!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Waaaahh&#8230; programnya banyak sekali pak.  Khusunya saya mendukung program2 unggulan seperti :<br />
# Penerapan Keterampilan Komputer Wajib bagi seluruh mahasiswa.<br />
# Realisasi kerjasama dibidang double degree dan pertukaran dosen dengan universitas terkemuka di luar negeri<br />
# Layanan informasi/informasi kebijakan lewat SMS bagi Pimpinan, Karyawan dan Mahasiswa.<br />
# Penataan Sistem dan Penerapan Arsip Digital untuk semua program.<br />
# Persiapan penerapan ISO 8000 untuk 5 program studi dan fakultas.<br />
# Persiapan dan penerapan Akreditasi Internasional untuk seluruh Departemen.<br />
# Revitalisasi unit-unit usaha tingkat fakultas (Makara Travel, Broadcasting Center, Koperasi FISIP UI).<br />
# Pengembangan fungsi dukungan IT untuk fungsi layanan jaringan di seluruh program.<br />
You have my vote 100%  and more&#8230;. !!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Tantangan Membangun Kerjasama Antardisiplin Ilmu Pengetahuan by Qinimain Zain</title>
		<link>http://bambangshergi.wordpress.com/2008/01/18/tantangan-membangun-kerjasama-antardisiplin-ilmu-pengetahuan/#comment-65</link>
		<dc:creator>Qinimain Zain</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 00:22:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangshergi.wordpress.com/2008/01/18/tantangan-membangun-kerjasama-antardisiplin-ilmu-pengetahuan/#comment-65</guid>
		<description>(Dikutip dari: materi Strategic Forum – QPlus Management Strategies 2008)

Strategi Filsafat Penelitian Milenium III
(Butanya Dasar Belajar Mengajar: Theory of Everything)
Oleh: Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. MEREKA (para peneliti – QZ) seakan-akan pelukis yang mengumpulkan tangan, kaki, kepala dan anggota-anggota lain bagi lukisannya dari macam-macam model. Masing-masing bagian dilukis dengan sangat bagus, tetapi tidak dihubungkan dengan satu tubuh sendiri, dan karena sama sekali tidak akan cocok satu sama lain, hasilnya akan lebih merupakan monster daripada manusia (Nicolas Copernicus).

APAKAH (ilmu) pengetahuan yang terkumpul, dipelajari, dimiliki dan diajarkan selama ini masih berupa monster? Bayangkan sosok gambaran seluruh (ilmu) pengetahuan semesta yang berserakan. Lebih kecil lagi, seluruhnya di satu pustaka. Lebih kecil lagi, di satu cabang ilmu. Lebih kecil lagi, di satu bidang ilmu. Lebih kecil lagi, satu hal sosok gambaran tentang semut, puisi, manajemen atau jembatan saja, terdiri atas potongan kacau banyak sekali. Potongan-potongan tulisan sangat bagus sampai buruk, jelas sampai kabur, dan benar sampai salah besar, yang tak menyatu, tumpang tindih dan bahkan saling bertentangan meski hal yang sama sekalipun. Ini membuat sulit siapa pun meneliti, belajar dan mengajarkan, ditandai dengan polemik panjang.    

Mengapa bisa demikian? Ada analogi menarik cerita lima orang buta ingin mengetahui tentang seekor gajah, yang belum pernah tahu gambaran binatang itu. Selain buta, tubuh mereka berbeda-beda tinggi badannya. Mereka pun berbaris berjajar, menghadap seekor gajah besar yang di keluarkan pemiliknya dari kandang. Orang yang pertama agak tinggi badannya, maju meraba bagian depan memegang belalai dan mengatakan gajah itu seperti ular. Yang kedua sedang badannya, meraba mendapati bagian kaki dan mengatakan gajah seperti pohon kelapa. Yang ketiga tinggi badannya,  memegang bagian kuping dan mengatakan gajah seperti daun talas. Yang keempat paling pendek badannya, maju di bawah perut gajah tidak memegang apa-apa dan mengatakan gajah seperti udara. Yang kelima pendek tubuhnya, maju meraba bagian belakang memegang ekor dan mengatakan gajah itu seperti pecut. Tentu, pemahaman gajah sesungguhnya dari kelima orang buta ini akan berbeda bila disodorkan gambar ukiran timbul atau patung kecil seekor gajah sebelumnya. 

Seperti itulah, siapa pun yang hanya memahami satu sudut pandang cabang (ilmu) pengetahuan sebagai gambaran pemecahan suatu masalah, tanpa luasan pandang menyeluruh (ilmu) pengetahuan. Memang, merupakan hukum alam segala sesuatu yang seragam (besar sedikit jumlahnya) makin lama makin beragam (kecil banyak jumlahnya), dan pada tingkat kekacauan dibutuhkan sistem keteraturan untuk memahaminya sebagai satu kesatuan. Tetapi, nampak (hampir) mustahil (karena tenaga, waktu dan biaya terbatas) mempelajari seluruh cabang (ilmu) pengetahuan mendapatkan pemahaman luas dan dalam semesta untuk suatu masalah.  Betapa beruntung dunia andai sosok kecil gambaran satu kesatuan the body of science itu ada. Gambaran rangkuman prinsip-prinsip satu kesamaaan semua hal dari sekian banyak perbedaan dalam semesta, sebuah Theory of Everything (TOE).

JIKA  Anda tahu bagaimana alam semesta ini bekerja, Anda dapat mengaturnya (Stephen William Hawking).

Kemudian, bagaimanakah mengetahui seseorang (dan juga diri sendiri) sebenarnya tergolong buta (karena tanpa TOE) terhadap sosok (ilmu) pengetahuan dimiliki sekarang?

Dengan sopan dan rendah hati, semua peneliti, pengajar atau siapa pun bidang apa pun harus menanyakan: Apa prinsip dasar asumsi penelitian, belajar dan mengajar (ilmu) pengetahuan yang diteliti, dimiliki atau diberikan? Jika jawaban berupa kalimat retorika atau basa-basi, mungkin ia (dan kita) tergolong masih buta tentang the body of science hal bidang ilmu pengetahuan itu. 

Lalu, apa rangkuman (kecil) prinsip dasar asumsi TOE dalam meneliti, belajar, mengajar dan mengelola ilmu pengetahuan hal apa pun? 

KETIDAKMAMPUAN seseorang untuk menjelaskan idenya secara singkat, barangkali dapat merupakan tanda bahwa dia tidak mengetahui pokok persoalan secara jelas (C. Ray Johnson).

Ilmu pengetahuan (obyek empiris) dinyatakan benar ilmu pengetahuan selama asumsi dasar diakui, yaitu ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang teratur (systematic knowledge) (pernyataan yang diterima setelah abad XVII) (The Liang Gie, 1997:380). Tanpa asumsi dasar keyakinan adanya keteraturan ini, proses meneliti, belajar mengajar apa pun yang di bangun di atasnya hanyalah potongan-potongan pengetahuan yang  tidak efektif, efesien dan produktif. Seperti pernyataan jernih ilmuwan Carl Sagan, bahwa jika kita hidup di atas sebuah planet di mana segala sesuatu tidak pernah berubah, sedikit sekali yang bisa dikerjakan. Tidak ada yang harus dibayangkan, dan tidak akan ada dorongan untuk bergerak menuju ilmu pengetahuan. Namun jika kita hidup di dalam dunia yang tidak bisa diramalkan di mana semua hal berubah secara acak atau dengan cara sangat rumit, kita juga tidak akan bisa menggambarkan semua keadaan. Di sini juga tidak ada ilmu pengetahuan. Tetapi kita hidup di dalam semesta yang berada di kedua keadaan ini. Di alam ini semua keadaan berubah, tetapi mengikuti pola, aturan, atau mengikuti yang kita katakan sebagai hukum-hukum alam. 

Lebih jelas, prinsip dasar asumsi keteraturan ini diurai Jujun S. Suriasumantri (1977:7-9) dengan baik, yaitu obyek empiris (tertentu) itu  serupa dengan lainnya seperti bentuk, struktur, sifat dan lain-lain, lalu (sifat) obyek tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu (meski pasti berubah dalam waktu lama yang berbeda-beda), serta tiap gejala obyek bukan bersifat kebetulan (namun memiliki pola tetap urutan sama atau sebab akibat). Akhirnya, saya memastikan rincian prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan ini dalam TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Science, bahwa definisi ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang memiliki susunan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang teratur. (Teratur pada TQZ Scientific System of Science adalah teratur sama dalam fungsi, jumlah, urutan, kaitan, dan paduan menyeluruh di semesta meski hal berbeda apa pun). Sebuah TOE, jawaban masalah dasar dan besar yang menghantui pikiran manusia selama dua ribu tahun atau dua millennium. 

TEORI adalah sekelompok asumsi masuk akal dikemukakan untuk menjelaskan hubungan dua atau lebih fakta yang dapat diamati, menyediakan dasar mantap memperkirakan peristiwa masa depan (JAF Stoner).

TOE penting sekali dalam meneliti, belajar mengajar dan mengelola bidang apa pun. Memecahkan suatu masalah sulit, tetapi mengenali (fenomena) masalah lebih sulit lagi. Dengan mengetahui dan memahami TOE, sangat membantu mengenali bila berhadapan atau merasakannya. Misal, seseorang telah disodorkan gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan akan lebih mudah untuk mengambil kesimpulan jika suatu saat menghadapi (fenomena) satu atau banyak masalah, meski belum pernah dikenalnya. Jadi, fungsi TOE – pada TQZ Scientific System of Science tak lain  sebuah paradigma scientific imagination benchmarking sistematis, berupa metode synectic kreatif menggunakan metafora dan analogi rinci menuntun suatu usaha memilih jalur proaktif terhadap suatu hal dengan memperhatikan fakta dan kemungkinan yang telah diidentifikasi dan dileluasakan, dengan lima dasar (posisi), fase (kualitas) dan level (sempurna). Suatu mental image atau model ilmiah analogi fenomena semesta dalam bentuk keteraturan yang dapat dipahami. 

Contoh sederhana (meski sebagai TOE belum cukup teratur), jika gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan tubuh mahluk hidup sempurna memiliki kepala, dada, perut, tangan dan kaki, sedang lainnya berupa bagian tambahan tubuh. Maka, seseorang yang meyakini dan memahami keteraturan ini akan melihat persamaan fungsi tubuh pada ikan gabus, kupu-kupu, monyet, ular dan burung pipit, selain perbedaan bagian itu. Dengan prinsip dasar asumsi keteraturan itu, tubuh mahluk hidup akan lebih mudah diteliti, pelajari dan diajarkan dengan benar, bahkan terhadap mahluk hidup unik lain yang baru dilihat. 

KARYA seorang  ilmuwan berlandaskan keyakinan bahwa alam pada pokoknya teratur. Bukti yang menunjang keyakinan itu dapat dilihat dengan mata telanjang bukan hanya pada pola sarang lebah atau pola kulit kerang, tetapi ilmuwan juga menemukan keteraturan pada setiap tingkat kehidupan (Henry Margenau). 

Bukti monster (ilmu) pengetahuan demikian besar, merugikan dan banyak di sekeliling. Contoh  monster-monster itu, dalam seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah di mana-mana tidak menyuguh keteraturan. Misal, bahasan mencipta puisi, cara menulis, atau mendefinisikan sesuatu saja, tanpa jelas kepala, tangan, badan, perut, dan kakinya, bahkan tanpa memastikan yang dijelaskan itu adalah bagian kaki atau kepala. Atau lebih parah lagi, tidak diketahui apakah yang disajikan itu kaki, jari, atau gigi, karena jumlahnya demikian tidak tetap dan berbeda. (Perhatikan kesimpulan utama penyebab masalah dan pemecahannya bidang ilmu hal yang sama sekali pun, bisa satu, dua, tiga, empat, lima, enam, sembilan, tujuhbelas, limapuluhdua, dan seterusnya, belum lagi bicara keteraturan urutan dan kaitan antar penyebab atau antar pemecahan yang disebutkan itu). Apalagi membahas masalah mengenai cara mengatasi krisis pangan, krisis energi atau strategi keunggulan usaha (suatu organisasi, daerah, bahkan negara), pasti monster lebih mengerikan.

 Contoh nyata monster raksasa, menunjukkan belum teraturnya kelompok ilmu sebagai ilmu pengetahuan. Deobold B. Van Dalen menyatakan, dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam yang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, ilmu-ilmu sosial agak tertinggal di belakang. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa ilmu-imu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam artian yang sepenuhnya. Di pihak lain terdapat pendapat bahwa secara lambat laun ilmu-ilmu sosial akan berkembang juga meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu-ilmu alam. Menurut kalangan lain adalah tak dapat disangkal bahwa dewasa  ini ilmu-ilmu sosial masih berada dalam tingkat yang belum dewasa. (Ilmu dalam Persfektif, Jujun S. Suriasumantri, 1977:134).  Juga C.A. Van Peursen, dalam tahap perkembangan ilmu pengetahuan kemajuan bidang ilmu alam lebih besar daripada ilmu kehidupan, dan ilmu kehidupan lebih maju dari ilmu kebudayaan (Strategi Kebudayaan: 1976:184-185). Sedang di dunia akademi, berjuta-juta hasil penelitian seluruh dunia kurang berguna dan sukar maju karena berupa monster maha raksasa, tanpa TOE yang merangkai sebagai satu kesatuan the body of science.  

Akhirnya, bagaimana mungkin (manusia) siapa pun yang terlibat proses meneliti, belajar, mengajar dan menggunakan ilmu pengetahuan sepanjang hidup dapat berpikir tenang, selama prinsip dasar asumsi keteraturan (ilmu) pengetahuannya belum beres?  Sebab, jika prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan yang didapat dan diberikan saja kebenarannya meragukan, maka kredibilitas kemampuan, nilai, gelar (dan status) seseorang (dan organisasi) itu pun diragukan. Karena, sebenar atau setinggi apa pun nilai memuaskan didapat dari pendidikan dengan pelajaran bahan yang buruk atau salah, tetaplah buruk atau salah, (setelah mengetahui bagaimana kebenaran suatu hal itu)  sebenarnya. Dan, tanpa keteraturan TOE, penelitian dan belajar mengajar, seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah terus menghasilkan monster di mana-mana. Banyak buang tenaga, waktu dan biaya percuma. Fatal dan mengerikan.

LEBIH baik menjadi manusia Socrates kritis yang tidak puas, daripada menjadi babi tolol yang puas (Henry Schmandt).

BAGAIMANA strategi Anda? 
*) Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>(Dikutip dari: materi Strategic Forum – QPlus Management Strategies 2008)</p>
<p>Strategi Filsafat Penelitian Milenium III<br />
(Butanya Dasar Belajar Mengajar: Theory of Everything)<br />
Oleh: Qinimain Zain</p>
<p>FEELING IS BELIEVING. MEREKA (para peneliti – QZ) seakan-akan pelukis yang mengumpulkan tangan, kaki, kepala dan anggota-anggota lain bagi lukisannya dari macam-macam model. Masing-masing bagian dilukis dengan sangat bagus, tetapi tidak dihubungkan dengan satu tubuh sendiri, dan karena sama sekali tidak akan cocok satu sama lain, hasilnya akan lebih merupakan monster daripada manusia (Nicolas Copernicus).</p>
<p>APAKAH (ilmu) pengetahuan yang terkumpul, dipelajari, dimiliki dan diajarkan selama ini masih berupa monster? Bayangkan sosok gambaran seluruh (ilmu) pengetahuan semesta yang berserakan. Lebih kecil lagi, seluruhnya di satu pustaka. Lebih kecil lagi, di satu cabang ilmu. Lebih kecil lagi, di satu bidang ilmu. Lebih kecil lagi, satu hal sosok gambaran tentang semut, puisi, manajemen atau jembatan saja, terdiri atas potongan kacau banyak sekali. Potongan-potongan tulisan sangat bagus sampai buruk, jelas sampai kabur, dan benar sampai salah besar, yang tak menyatu, tumpang tindih dan bahkan saling bertentangan meski hal yang sama sekalipun. Ini membuat sulit siapa pun meneliti, belajar dan mengajarkan, ditandai dengan polemik panjang.    </p>
<p>Mengapa bisa demikian? Ada analogi menarik cerita lima orang buta ingin mengetahui tentang seekor gajah, yang belum pernah tahu gambaran binatang itu. Selain buta, tubuh mereka berbeda-beda tinggi badannya. Mereka pun berbaris berjajar, menghadap seekor gajah besar yang di keluarkan pemiliknya dari kandang. Orang yang pertama agak tinggi badannya, maju meraba bagian depan memegang belalai dan mengatakan gajah itu seperti ular. Yang kedua sedang badannya, meraba mendapati bagian kaki dan mengatakan gajah seperti pohon kelapa. Yang ketiga tinggi badannya,  memegang bagian kuping dan mengatakan gajah seperti daun talas. Yang keempat paling pendek badannya, maju di bawah perut gajah tidak memegang apa-apa dan mengatakan gajah seperti udara. Yang kelima pendek tubuhnya, maju meraba bagian belakang memegang ekor dan mengatakan gajah itu seperti pecut. Tentu, pemahaman gajah sesungguhnya dari kelima orang buta ini akan berbeda bila disodorkan gambar ukiran timbul atau patung kecil seekor gajah sebelumnya. </p>
<p>Seperti itulah, siapa pun yang hanya memahami satu sudut pandang cabang (ilmu) pengetahuan sebagai gambaran pemecahan suatu masalah, tanpa luasan pandang menyeluruh (ilmu) pengetahuan. Memang, merupakan hukum alam segala sesuatu yang seragam (besar sedikit jumlahnya) makin lama makin beragam (kecil banyak jumlahnya), dan pada tingkat kekacauan dibutuhkan sistem keteraturan untuk memahaminya sebagai satu kesatuan. Tetapi, nampak (hampir) mustahil (karena tenaga, waktu dan biaya terbatas) mempelajari seluruh cabang (ilmu) pengetahuan mendapatkan pemahaman luas dan dalam semesta untuk suatu masalah.  Betapa beruntung dunia andai sosok kecil gambaran satu kesatuan the body of science itu ada. Gambaran rangkuman prinsip-prinsip satu kesamaaan semua hal dari sekian banyak perbedaan dalam semesta, sebuah Theory of Everything (TOE).</p>
<p>JIKA  Anda tahu bagaimana alam semesta ini bekerja, Anda dapat mengaturnya (Stephen William Hawking).</p>
<p>Kemudian, bagaimanakah mengetahui seseorang (dan juga diri sendiri) sebenarnya tergolong buta (karena tanpa TOE) terhadap sosok (ilmu) pengetahuan dimiliki sekarang?</p>
<p>Dengan sopan dan rendah hati, semua peneliti, pengajar atau siapa pun bidang apa pun harus menanyakan: Apa prinsip dasar asumsi penelitian, belajar dan mengajar (ilmu) pengetahuan yang diteliti, dimiliki atau diberikan? Jika jawaban berupa kalimat retorika atau basa-basi, mungkin ia (dan kita) tergolong masih buta tentang the body of science hal bidang ilmu pengetahuan itu. </p>
<p>Lalu, apa rangkuman (kecil) prinsip dasar asumsi TOE dalam meneliti, belajar, mengajar dan mengelola ilmu pengetahuan hal apa pun? </p>
<p>KETIDAKMAMPUAN seseorang untuk menjelaskan idenya secara singkat, barangkali dapat merupakan tanda bahwa dia tidak mengetahui pokok persoalan secara jelas (C. Ray Johnson).</p>
<p>Ilmu pengetahuan (obyek empiris) dinyatakan benar ilmu pengetahuan selama asumsi dasar diakui, yaitu ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang teratur (systematic knowledge) (pernyataan yang diterima setelah abad XVII) (The Liang Gie, 1997:380). Tanpa asumsi dasar keyakinan adanya keteraturan ini, proses meneliti, belajar mengajar apa pun yang di bangun di atasnya hanyalah potongan-potongan pengetahuan yang  tidak efektif, efesien dan produktif. Seperti pernyataan jernih ilmuwan Carl Sagan, bahwa jika kita hidup di atas sebuah planet di mana segala sesuatu tidak pernah berubah, sedikit sekali yang bisa dikerjakan. Tidak ada yang harus dibayangkan, dan tidak akan ada dorongan untuk bergerak menuju ilmu pengetahuan. Namun jika kita hidup di dalam dunia yang tidak bisa diramalkan di mana semua hal berubah secara acak atau dengan cara sangat rumit, kita juga tidak akan bisa menggambarkan semua keadaan. Di sini juga tidak ada ilmu pengetahuan. Tetapi kita hidup di dalam semesta yang berada di kedua keadaan ini. Di alam ini semua keadaan berubah, tetapi mengikuti pola, aturan, atau mengikuti yang kita katakan sebagai hukum-hukum alam. </p>
<p>Lebih jelas, prinsip dasar asumsi keteraturan ini diurai Jujun S. Suriasumantri (1977:7-9) dengan baik, yaitu obyek empiris (tertentu) itu  serupa dengan lainnya seperti bentuk, struktur, sifat dan lain-lain, lalu (sifat) obyek tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu (meski pasti berubah dalam waktu lama yang berbeda-beda), serta tiap gejala obyek bukan bersifat kebetulan (namun memiliki pola tetap urutan sama atau sebab akibat). Akhirnya, saya memastikan rincian prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan ini dalam TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Science, bahwa definisi ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang memiliki susunan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang teratur. (Teratur pada TQZ Scientific System of Science adalah teratur sama dalam fungsi, jumlah, urutan, kaitan, dan paduan menyeluruh di semesta meski hal berbeda apa pun). Sebuah TOE, jawaban masalah dasar dan besar yang menghantui pikiran manusia selama dua ribu tahun atau dua millennium. </p>
<p>TEORI adalah sekelompok asumsi masuk akal dikemukakan untuk menjelaskan hubungan dua atau lebih fakta yang dapat diamati, menyediakan dasar mantap memperkirakan peristiwa masa depan (JAF Stoner).</p>
<p>TOE penting sekali dalam meneliti, belajar mengajar dan mengelola bidang apa pun. Memecahkan suatu masalah sulit, tetapi mengenali (fenomena) masalah lebih sulit lagi. Dengan mengetahui dan memahami TOE, sangat membantu mengenali bila berhadapan atau merasakannya. Misal, seseorang telah disodorkan gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan akan lebih mudah untuk mengambil kesimpulan jika suatu saat menghadapi (fenomena) satu atau banyak masalah, meski belum pernah dikenalnya. Jadi, fungsi TOE – pada TQZ Scientific System of Science tak lain  sebuah paradigma scientific imagination benchmarking sistematis, berupa metode synectic kreatif menggunakan metafora dan analogi rinci menuntun suatu usaha memilih jalur proaktif terhadap suatu hal dengan memperhatikan fakta dan kemungkinan yang telah diidentifikasi dan dileluasakan, dengan lima dasar (posisi), fase (kualitas) dan level (sempurna). Suatu mental image atau model ilmiah analogi fenomena semesta dalam bentuk keteraturan yang dapat dipahami. </p>
<p>Contoh sederhana (meski sebagai TOE belum cukup teratur), jika gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan tubuh mahluk hidup sempurna memiliki kepala, dada, perut, tangan dan kaki, sedang lainnya berupa bagian tambahan tubuh. Maka, seseorang yang meyakini dan memahami keteraturan ini akan melihat persamaan fungsi tubuh pada ikan gabus, kupu-kupu, monyet, ular dan burung pipit, selain perbedaan bagian itu. Dengan prinsip dasar asumsi keteraturan itu, tubuh mahluk hidup akan lebih mudah diteliti, pelajari dan diajarkan dengan benar, bahkan terhadap mahluk hidup unik lain yang baru dilihat. </p>
<p>KARYA seorang  ilmuwan berlandaskan keyakinan bahwa alam pada pokoknya teratur. Bukti yang menunjang keyakinan itu dapat dilihat dengan mata telanjang bukan hanya pada pola sarang lebah atau pola kulit kerang, tetapi ilmuwan juga menemukan keteraturan pada setiap tingkat kehidupan (Henry Margenau). </p>
<p>Bukti monster (ilmu) pengetahuan demikian besar, merugikan dan banyak di sekeliling. Contoh  monster-monster itu, dalam seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah di mana-mana tidak menyuguh keteraturan. Misal, bahasan mencipta puisi, cara menulis, atau mendefinisikan sesuatu saja, tanpa jelas kepala, tangan, badan, perut, dan kakinya, bahkan tanpa memastikan yang dijelaskan itu adalah bagian kaki atau kepala. Atau lebih parah lagi, tidak diketahui apakah yang disajikan itu kaki, jari, atau gigi, karena jumlahnya demikian tidak tetap dan berbeda. (Perhatikan kesimpulan utama penyebab masalah dan pemecahannya bidang ilmu hal yang sama sekali pun, bisa satu, dua, tiga, empat, lima, enam, sembilan, tujuhbelas, limapuluhdua, dan seterusnya, belum lagi bicara keteraturan urutan dan kaitan antar penyebab atau antar pemecahan yang disebutkan itu). Apalagi membahas masalah mengenai cara mengatasi krisis pangan, krisis energi atau strategi keunggulan usaha (suatu organisasi, daerah, bahkan negara), pasti monster lebih mengerikan.</p>
<p> Contoh nyata monster raksasa, menunjukkan belum teraturnya kelompok ilmu sebagai ilmu pengetahuan. Deobold B. Van Dalen menyatakan, dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam yang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, ilmu-ilmu sosial agak tertinggal di belakang. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa ilmu-imu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam artian yang sepenuhnya. Di pihak lain terdapat pendapat bahwa secara lambat laun ilmu-ilmu sosial akan berkembang juga meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu-ilmu alam. Menurut kalangan lain adalah tak dapat disangkal bahwa dewasa  ini ilmu-ilmu sosial masih berada dalam tingkat yang belum dewasa. (Ilmu dalam Persfektif, Jujun S. Suriasumantri, 1977:134).  Juga C.A. Van Peursen, dalam tahap perkembangan ilmu pengetahuan kemajuan bidang ilmu alam lebih besar daripada ilmu kehidupan, dan ilmu kehidupan lebih maju dari ilmu kebudayaan (Strategi Kebudayaan: 1976:184-185). Sedang di dunia akademi, berjuta-juta hasil penelitian seluruh dunia kurang berguna dan sukar maju karena berupa monster maha raksasa, tanpa TOE yang merangkai sebagai satu kesatuan the body of science.  </p>
<p>Akhirnya, bagaimana mungkin (manusia) siapa pun yang terlibat proses meneliti, belajar, mengajar dan menggunakan ilmu pengetahuan sepanjang hidup dapat berpikir tenang, selama prinsip dasar asumsi keteraturan (ilmu) pengetahuannya belum beres?  Sebab, jika prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan yang didapat dan diberikan saja kebenarannya meragukan, maka kredibilitas kemampuan, nilai, gelar (dan status) seseorang (dan organisasi) itu pun diragukan. Karena, sebenar atau setinggi apa pun nilai memuaskan didapat dari pendidikan dengan pelajaran bahan yang buruk atau salah, tetaplah buruk atau salah, (setelah mengetahui bagaimana kebenaran suatu hal itu)  sebenarnya. Dan, tanpa keteraturan TOE, penelitian dan belajar mengajar, seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah terus menghasilkan monster di mana-mana. Banyak buang tenaga, waktu dan biaya percuma. Fatal dan mengerikan.</p>
<p>LEBIH baik menjadi manusia Socrates kritis yang tidak puas, daripada menjadi babi tolol yang puas (Henry Schmandt).</p>
<p>BAGAIMANA strategi Anda?<br />
*) Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: <a href="mailto:tqz_strategist@yahoo.co.id">tqz_strategist@yahoo.co.id</a> (www.scientist-strategist.blogspot.com)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Comment on Menjadi Lulusan FISIP UI yang Membanggakan by Eva</title>
		<link>http://bambangshergi.wordpress.com/2007/12/27/menjadi-lulusan-fisip-ui-yang-membanggakan/#comment-64</link>
		<dc:creator>Eva</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 02:05:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://bambangshergi.wordpress.com/2007/12/27/menjadi-lulusan-fisip-ui-yang-membanggakan/#comment-64</guid>
		<description>setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuu...............</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>setujuuuuuuuuuuuuuuuuuuu&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
