Khusyuk, gempita dan riuh Ramadhan telah kita lewati. Kini, tugas-tugas rutin kantor sudah menanti. Mari merenung sejenak dan kembali bertanya ke dalam hati, apakah kini fitrah itu terwujud dan iman meresap di semua pori-pori dan kita berfikir kita berperspektif iman? Semoga iya. Karena ibadah bulan Ramadhan janganlah menyisakan catatan lapar dan dahaga semata. Sebelum kita memulai tugas-tugas kita, marilah kita mulai dengan doa. Doa adalah harapan. Semua orang punya pengharapan, dan seharusnya setiap orang punya doa. Untuk itu, marilah kita memulai tugas kita dengan doa. Sebagai buah Ramadhan, mestinya doa kita semakin berkualitas.
Doa adalah buah dari suatu kesadaran akan keadaan saat ini yang ingin diubah dengan sengaja. Ada kesadaran bahwa doa dapat menjadi tumpuan yang ampuh dalam membulatkan tekad. Ia adalah kristalisasi ikhtiar dan kepasrahan pada Allah swt. Doa yang mustajab bermula dari taubat, suatu kesadaran akan kekurangan dan keinginan untuk menjadi lebih baik. Manusia yang tidak berdoa berarti mata hatinya serta inderanya sudah beku. Terkait dengan doa, ada dua pertanyaan mendasar. Di mana posisi doa bagi kita yang selalu berfikir secara rasional, berfikir dalam konstruksi sistemik? Bagi kita yang ingin menjadi seorang akademisi, apa isi doa yang cocok?
Menjawab yang pertama, perlu terus ditekankan bahwa Allah adalah sumber dari segala sumber yang ada. Sumber itu termasuk sumber ide dan ilmu pengetahuan, karena Ia adalah Al-Aliim (maha berilmu). Untuk ini ada penjelasannya. Dalam upaya menerangkan innate ideas, yakni wujud idea bawaan yang sudah ada dalam seluruh jiwa manusia, Descartes (Muslih, 2004) berpendapat bahwa Tuhan adalah wujud yang sama sekali sempurna. Oleh karena ‘saya’ mempunyai ide ‘sempurna’, mesti ada sesuatu penyebab sempurna itu, karena suatu akibat tidak bisa melebihi penyebabnya. Wujud yang sempurna itu tidak bisa lain daripada Tuhan.
Untuk soal yang kedua, doa seorang dosen kiranya dapat bermula dari sebutan: Ya Allah yang Rahiim, pada hari ini berilah daku kesempatan untuk memberikan yang terbaik bagi lingkunganku, kepada keluargaku, kepada murid-mahasiswaku. Untuk itu berikanlah padaku ilmu yang luas, berikanlah padaku kejernihan dan ketajaman berfikir, berikanlah kemampuanku berbicara dan menjelaskan kepada murid-mahasiswa agar mereka mampu menangkap pengetahuanku. Ya Allah, aku sadar ilmuku sangatlah sedikit, dibanding luas samudra dan keseluruhan butir pasir yang menghiasi bibir pantai… Kelak, jadikanlah murid-mahasiswaku lebih pintar, lebih bijaksana dan lebih berhasil daripada kami, sehingga keadaan kita semua menjadi kian membaik dibanding saat ini. Amin, ya rabbal alamin.
Semoga kita semua semakin mengenal hakekat keberadaan kita di dunia dan tahu persis peran apa yang seharusnya dijalani. Demikianlah kira-kira doaku kepada sang Khalik. Apa kira-kira bunyi doamu?