Feeds:
Posts
Comments

Saya tidak tahu ya, mungkin tidak ada negeri lain yang lebih banyak menelan daripada negeri Indonesia yang kita cintai ini.

Segala bentuk eksperimentasi Bank Dunia dan IMF kita telan habis-habis. Lumatan ide dan kunyahan rumus pembangunan dari para konsultan barat itu kita telan dengan sempurna. Bahkan ludahnya kita rasakan lezat. Bersamaan dengan itu, kita senang dielus-elus. Bangsa ini senang dibelai ketika duduk manis, seringkali berada di tempat tidur, nyenyak, manakala harta bendanya digarong habis!

Maaf, kalau kalimat di atas agak keras. Tapi, memang sejauh ini Indonesia seakan tidur panjang. Entah ditidurkan secara sengaja atau memang kita saja yang malas befikir. Seharusnya bangsa Indonesia lebih sadar diri (menyadarkan diri) akan tantangan pembangunan dan tantangan global. Menurut saya, bangsa yang lemah bersumber dari pendidikan lemah. Solusi bangsa, dengan demikian, harus mulai dari dunia pendidikan. Ya, dari kita-kita inilah!

 

Continue Reading »

Mulus… mulus …. Muluuusss. Wah mulus banget. Siapa yang tidak terpesona dengan mulusnya jalan tol di Kuala Lumpur. Perjalanan dari KLIA menuju daerah Bangi, melewati sejumlah putaran tol, meliuk dengan derajat siku yang nyaman. Melaju dalam hentakan peredam kejut mobil Proton terbaru. Wusshh melaju sambil mata dihibur rantaian pohon bunga di sepanjang jalan. Tampak Cyberjaya dari kejauhan dan juga Universitas Pertanian Malaysia. Gedung modern Universitas LimKokWing dengan slogannya for the creative talents dan Universitas Multimedia yang megah juga mencuri pandangan kita.

Di tengah keterpurukan kita, telusuran kita di lebuh raya (jalan tol) di ibukota Malaysia ini memang membuat hati kita berdebar karena decak kagum. Jakun pun kerap berdegub karena sering menelan ludah. Bagaimana bisa sebuah lompatan demikian jauh, melesat kencang, buah kerja bangsa Melayu yang tiga dekade lalu sering kita pandang sebelah mata. “Kuala Lumpur is a beautiful city,” komentar kenalan saya dari Skotland, sebut saja namanya John. Penilaian itu diberikan dengan maksud membandingkan Jakarta yang juga sangat dikenalnya luar dalam.

Dia juga cerita tentang kebiasaan petugas imigrasi bandara kita yang sering menerima (atau meminta) selipan uang seratus ribu dari warga negara Indonesia yang baru pulang dari luar negeri -dari bangsa Indonesia keturunan Cina dan India, khususnya. Jelas ini berbeda dengan banda KLIA yang begitu modern dan indah arsitekturnya. Orangnya sama Melayunya, tetapi sistem kerjanya itu lho yang nampak membungkus perilaku organisasi menjadi profesional, impersonal tetapi efisien. Turis yang datang berbondong-bondong ke negeri itu saya lihat riang dan seakan diberi energi ketika berkeliaran di ruang antrean imigrasi Malaysia dan di ruang pengambilan bagasi. “Indonesians are nice friendly people, but they are just not welcoming; the bribery in the airport gives the wrong message about Indonesia,” komentar John berusaha sopan.

 

Continue Reading »

Apa yang harus kita buat? Banyak hal dapat kita lakukan. Banyak yang dapat kita lakukan segera. Sebagai individu mahasiswa, marilah kita menjadi bagian dari suatu kerangka kerja nasional untuk mempersiapkan diri menajdi lapisan pemimpin yang profesional dan memiliki komitmen moral kebangsaan. Persiapkan diri sebaik mungkin untuk menjadi pemimpin kelak yang mampu menghimpun kekuatan bangsa dari berbagai macam unsur pengetahuan.

Kepada para staf pengajar FISIP, marilah kita menjadi bagian dari kerangka kerja nasional untuk membangun kekuatan kelembagaan, pendorong inovasi dan menjadi penunjang kerangka industri yang maju dan kompetitif dalam dunia global. Kepada para dosen muda, khususnya, kalianlah penerus semangat dan karya bangsa. Siapkan dirimu menjadi unsur pemersatu dalam ilmu dan dalam kerja bangsa untuk mengejar ketertinggalan bangsa ini.

Kepada para karyawan, engkau adalah fondamen lembaga di mana kita bersandar, maka temukan kebahagiaanmu dalam pengabdian. Untuk kita semua, temukan kebahagiaan dalam kemajuan dan cinta sesama.

Ya Allah, aku sadar ilmuku sangatlah sedikit, dibanding luas samudra dan keseluruhan butir pasir yang menghiasi bibir pantai… Kelak, jadikanlah murid-mahasiswaku lebih pintar, lebih bijaksana dan lebih berhasil dari kami, sehingga keadaan kita semua menjadi kian membaik dibandingkan saat ini. Amin, ya rabbal alamin.

I. Mendekati hati mahasiswa

Memberikan kata sambutan kepada mahasiswa baru FISIP bukanlah perkara yang mudah buat saya. Berdiri dan memberikan ceramah kecil di depan mahasiswa baru, pada acara PSAU misalnya, bukannya tidak sulit. Untuk memberikan apa yang penting, yang perlu dan yang sepintas perlu diketahui mahasiswa sebenarnya perlu dipersiapkan juga. Apa yang mutlak diketahui (have to know), apa yang penting (need to know) dan apa yang sepintas perlu (nice to know) perlu dipikir takarannya, agar proporsi yang diberikan bisa pas -bukannya elemen yang hanya sepintas diperlukan mahasiswa justru memperoleh proporsi yang terbanyak. Misalnya saja, berbicara terlalu banyak tentang ‘jalanan bisa banjir dan macet kalau musim hujan di Margonda’ atau ‘gado-gado yang enak ada lho di kantin PAU’ atau ‘tempat hang out yang enak di Depok ada di …. (saya tidak tahu)’.

 

 

Continue Reading »

Doa Seorang Dosen


Khusyuk, gempita dan riuh Ramadhan telah kita lewati. Kini, tugas-tugas rutin kantor sudah menanti. Mari merenung sejenak dan kembali bertanya ke dalam hati, apakah kini fitrah itu terwujud dan iman meresap di semua pori-pori dan kita berfikir kita berperspektif iman? Semoga iya. Karena ibadah bulan Ramadhan janganlah menyisakan catatan lapar dan dahaga semata. Sebelum kita memulai tugas-tugas kita, marilah kita mulai dengan doa. Doa adalah harapan. Semua orang punya pengharapan, dan seharusnya setiap orang punya doa. Untuk itu, marilah kita memulai tugas kita dengan doa. Sebagai buah Ramadhan, mestinya doa kita semakin berkualitas.

Doa adalah buah dari suatu kesadaran akan keadaan saat ini yang ingin diubah dengan sengaja. Ada kesadaran bahwa doa dapat menjadi tumpuan yang ampuh dalam membulatkan tekad. Ia adalah kristalisasi ikhtiar dan kepasrahan pada Allah swt. Doa yang mustajab bermula dari taubat, suatu kesadaran akan kekurangan dan keinginan untuk menjadi lebih baik. Manusia yang tidak berdoa berarti mata hatinya serta inderanya sudah beku. Terkait dengan doa, ada dua pertanyaan mendasar. Di mana posisi doa bagi kita yang selalu berfikir secara rasional, berfikir dalam konstruksi sistemik? Bagi kita yang ingin menjadi seorang akademisi, apa isi doa yang cocok?

Menjawab yang pertama, perlu terus ditekankan bahwa Allah adalah sumber dari segala sumber yang ada. Sumber itu termasuk sumber ide dan ilmu pengetahuan, karena Ia adalah Al-Aliim (maha berilmu). Untuk ini ada penjelasannya. Dalam upaya menerangkan innate ideas, yakni wujud idea bawaan yang sudah ada dalam seluruh jiwa manusia, Descartes (Muslih, 2004) berpendapat bahwa Tuhan adalah wujud yang sama sekali sempurna. Oleh karena ‘saya’ mempunyai ide ‘sempurna’, mesti ada sesuatu penyebab sempurna itu, karena suatu akibat tidak bisa melebihi penyebabnya. Wujud yang sempurna itu tidak bisa lain daripada Tuhan.

Untuk soal yang kedua, doa seorang dosen kiranya dapat bermula dari sebutan: Ya Allah yang Rahiim, pada hari ini berilah daku kesempatan untuk memberikan yang terbaik bagi lingkunganku, kepada keluargaku, kepada murid-mahasiswaku. Untuk itu berikanlah padaku ilmu yang luas, berikanlah padaku kejernihan dan ketajaman berfikir, berikanlah kemampuanku berbicara dan menjelaskan kepada murid-mahasiswa agar mereka mampu menangkap pengetahuanku. Ya Allah, aku sadar ilmuku sangatlah sedikit, dibanding luas samudra dan keseluruhan butir pasir yang menghiasi bibir pantai… Kelak, jadikanlah murid-mahasiswaku lebih pintar, lebih bijaksana dan lebih berhasil daripada kami, sehingga keadaan kita semua menjadi kian membaik dibanding saat ini. Amin, ya rabbal alamin.

Semoga kita semua semakin mengenal hakekat keberadaan kita di dunia dan tahu persis peran apa yang seharusnya dijalani. Demikianlah kira-kira doaku kepada sang Khalik. Apa kira-kira bunyi doamu?

« Newer Posts - Older Posts »